Pengasuh dan segenap Pengurus Ahlul Bayt Times mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijah 1433 H.

Video

Sabtu, 25 Agustus 2012

Imam Khomeini Dalam Pandangan Allamah Al-Sayyed Muhammad Hussein Fadlullah, Lebanon


Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
Shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya yang baik dan para sahabatnya dan kepada seluruh para nabi dan rasul..

Assalamualaikum wahai saudara-saudaraku mukminin dan mukminat, warahmatullahi wabarakatuh..

Beliau (Imam Khomeini) adalah seorang Al-Arif billah ! yang bukan dicapai olehnya melalui kerumitan falsafah. Tetapi beliau memperolehnya dari kebersihan akalnya dan kejernihan ruhnya terhadap Allah swt dan dari situ beliau membuka wujudnya terhadap seluruh wujud yang ada, karena insan yang hidup bersama Allah dalam cakrawala makrifat maka dia adalah seorang manusia yang hidup penuh inspirasi dalam setiap fikirannya, kalbunya dan setiap gerak geriknya dalam kehidupan. Maka manusia yang mengenal Allah swt akan membuka dirinya terhadap manusia yang lain, yang setiap kali berbeda dengan manusia yang lain dalam beberapa perkara yang tampak dalam hubungannya tentang Allah atau berkenaan dengan berbagai macam pemikiran maka manusia tersebut bersama dengan manusia-manusia itu yang menginginkan kebebasan, memberikan satu kreasi, mendalami, tumbuh dan menjadikan kebenaran itu sebagai hakikat pada akhir perjalanannya.

Sesungguhnya manusia yang hidup bersama Allah dalam akal pikirannya, kecintaan dalam kalbunya dan gerakan dalam hidupnya adalah Manusia yang tidak mencoba ‘memenjarakan’ Allah dalam ke-egoisannya dan ke-akuannya akan tetapi dia hidup bersama Allah dalam menghadapi problematika, maka sepatutnya manusia itu membuka seluruh kehidupnya. Dan prolematika yang sering dihadapi oleh manusia yang hidup dalam penjara diri mereka sendiri atau penjara kelompoknya atau partainya atau kefanatikan lainnya, mereka adalah manusia yang belum mengenal Allah, sekalipun mereka meneriakkan nama-Nya ribuan kali. Untuk itu jika manusia membuka diri kepada Allah berarti ia membuka diri kepada seluruh manusia, mencermati manusia dalam seluruh dimensi dan sisinya. Bagaimana keterbelakangan itu mengubah akal pikirannya sehingga menutup seluruh nuraninya dan bagaimana fanatisme itu bergerak sehingga memisahkan dirinya dari orang lain, dari realitas kehidupannya dan akhirnya memisahkan dirinya dari Allah.

Begitulah kami melihatnya ketika beliau (Imam Khomeini) seorang arif yang membuka dirinya kepada Allah dan membuka dirinya terhadap kehidupan dan manusia maka dialah seorang faqih. Seorang faqih yang fikihnya hidup dan dapat diterima dalam kehidupan manusia seluruhnya. Dia tidak hidup dengan manusia dan memandang mereka secara parsial tetapi beliau justru menangani problematika manusia dari satu bagian ke bagian yang lain, dalam setiap isu dan rasa sakit dalam nurani mereka. Begitulah fikihnya berlanjut hingga beliau menyerang rezim yang pada hakekatnya yang beliau lakukan itu bahkan membenahi manusia seluruhnya. Dia tidak ingin fikihnya ambruk dan jatuh kedalam lingkaran yang sempit tetapi ia ingin fikih itu hidup bersama manusia dan untuk manusia. Sebagaimana beliau selalu berbicara bahwa agama diciptakan untuk melayani manusia dan bukan sebaliknya, manusia yang melayani agama. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

يا أيها الذين آمنوا استجيبوا لله وللرسول إذا دعاكم لما يحييكم...

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu..” (Q.S: Al Anfal : 24)



Begitulah wahai saudara-saudaraku tercinta, kepribadian seorang bijak hidup bersama kepribadian seorang fakih dan kemudian menjadi sebuah gerakan revolusi. Kemudian menjadikan manusia dalam cakrawala Allah dan ini adalah rahasia dari revolusinya. Ketika berfikir tentang manusia beliau menggali seluruh problem manusia itu, beliau menjadikan dirinya, akalnya, hatinya dan jiwanya sebagai tolak ukur dalam menyelesaikan masalah manusia. Begitu juga beliau melihat pihak yang ingin menempatkan kemanusiaan dengan segala macam fasilitas melalui arogansi yang hidup dengan pribadi yang keras, arogansi yang menguasai manusia, beliau berfikir bahwa mereka menggunakan dalih kelalaian manusia dalam unsur-unsur kekuatannya dan pergerakan eksistensinya. Dan beliau melihat disana ada banyak firaun yang mengajukan dirinya untuk menjadi tuhan untuk manusia. Dan beliau melihat banyak manusia menjadi penyembah-penyembah berhala dirinya sendiri, untuk itu beliau berkata; “Sesungguhnya seluruh kekuatan itu hanya milik Allah semata...”, “.. Dan kemuliaan itu hanya milik Allah..” dan beliau selalu berkata kepada manusia, “Kalian memiliki unsur kemanusiaan, maka usahakanlah unsur itu untuk menjadi sebuah kekuatan dan kalian juga memiliki unsur kekuatan dari sekeliling kalian maka usahakanlah itupun ikut tumbuh bersama kalian, sedangkan para penguasa zalim menyimpan banyak kelemahan dalam dirinya dan sekitarnya dan janganlah kalian sekali-kali melupakan hal itu, cermatilah dengan unsur kekuatan kalian. Jika kalian ingin menjadi orang yang realistis sebagaimana yang terjadi pada banyak manusia sesuai dengan mimpi-mimpinya, agar manusia itu tidak menjadi idealis dan melayang diatas dalam berbicara mengenai kekalahan dan kemenangan, atau dalam masalah perang dan damai, atau berkenaan dengan politik dsb”. Dan Imam Khomeini adalah seorang yang realistis – dalam makna yang paling dalam, akan tetapi beliau tidak memandang bahwa realistis itu berarti pasrah terhadap realita itu sendiri bukan juga tunduk terhadap identitas dari realita, akan tetapi realistis itu adalah merubah realita dengan perangkat realita itu sendiri, mencari potensi kekuatan dalam realita dan menggunakannya, karena mereka (mustakbirin) tidak dilahirkan dengan kekuatan tetapi mereka justru mengambil kekuatan itu dari realita mereka dan kemudian mereka menjadi orang yang memiliki kekuatan. Lalu mengapa kalian tidak menjadi orang-orang kuat?”

Untuk itu seluruh kegelisahannya diawal revolusi atau sebelum memperoleh kemenangan itu atau setelah kemenangan, beliau mengosongkan pikiran manusia, hati, gerakan dan perasaan dari rasa takut menghadapi penguasa zalim atau perasaan itu yang tumbuh dalam jiwa mereka. Untuk itu beliau berkata kepada manusia, “Tataplah’ Allah dan tataplah mereka (mustakbirin)! dan perbandingkanlah antara keduanya, antara kekuatan Allah dan kekuatan mereka. Jika kalian mendapatkan keseimbangan atau kesamaan dalam beberapa hal maka berarti kalian harus mempelajari permasalahannya hingga tuntas (hingga tidak ada yang dapat dibandingkan dengan-Nya) dan jangan kalian hanya berhenti pada awalnya karena setiap persoalan jika kalian mempelajarinya maka akhirnya dapat diselesaikan dengan mempelajari fakta-fakta yang ada.

Begitulah, mungkin banyak manusia mentertawakan, dan saya mendengar dari kelompok ini, ketika beliau mengatakan; “Tidak barat dan tidak timur!”. Yang beliau maksud timur adalah Uni Soviet dan barat adalah Amerika dan Eropa, maka banyak orang mentertawakannya, “Apa kekuatan orang tua ini ketika berdiri dan mengatakan tidak barat dan tidak timur?”. Karena tidak barat dan tidak timur dianggap sebagai sesuatu kesombongan pada saat itu. Beliau berkata, “Problem timur adalah dimana mereka takut akan masa depan dan pertumbuhan ekonominya terhadap dunia barat, takut akan keamanan dan politiknya”. Disitu beliau mampu menghidupkan insaniah manusia hingga menjadikan sebuah slogan, menjadi sebuah gerakan, dan sebaliknya, tidak menjadikan gerakan hanya menjadi sebuah slogan. Beliaupun tidak menjadikan slogan hanya sebuah komoditi tetapi justru menjadikan slogan tersebut menjadi sebuah kalimat yang memerankan keinginan manusia dalam menyusun kekuatan menghadapi kezaliman.


Begitulah beliau akhirnya mampu membebaskan Iran dan kawasan sekitarnya dan mampu menginspirasi kawasan walau hanya membebaskan rasa takut di kawasan. Beliau mampu menyingkirkan rasa takut dalam setiap diri manusia dan menjadikan manusia percaya diri akan potensinya bahkan sering dikatakan orang bahwa beliau telah memberikan dampak, bahkan mengekspor revolusinya. Dan revolusi itu wahai saudara-saudara tercinta…, bukanlah urusan kementrian ekonomi yang mengurusi ekspor-impor tetapi revolusi itu adalah gerakan akal, perasaan yang membara, dan revolusi itu tumbuh dari kemanusiaan kalian ketika kemanusiaan itu hidup dalam kebebasan dan kesadaran terhadap diri dan lingkungan kalian. Untuk itu, tidak mungkin mengekspor sebuah revolusi kepada suatu masyarakat yang tidak memilki kesadaran. Dan beliau selalu berpikir bagaimana caranya menumbuhkan kesadaran dalam setiap jiwa manusia.

Begitu pula ketika beliau membicarakan Amerika, dan sebagian orang mentertawakannya ketika beliau mengatakan “Amerika adalah setan besar!”, akan tetapi beliau sesungguhnya mengetahui kekuatan Amerika dan beliau mengenal betul apa yang dimiliki Amerika dengan kekuatan materinya. Beliau memahami betul barometer apa yang digunakan Amerika dan beliau tidak ingin manusia tertipu dengan barometer yang selalu digunakan Amerika dimana satu pendapat umum lahir bahwa tidak mungkin ekonomi sebuah bangsa maju kecuali bergantung kepada amerika. Dan tidak mungkin sebuah politik itu berjalan kecuali bersama amerika. Dan tidak mungkin keamanan itu didapat kecuali bekerjasama dengan amerika. Dan beliau berkata, mari kita mencobanya (tanpa amerika)! Dan percobaan itu telah beliau mulai. Dan Iran pun mampu – dengan segala macam luka yang dideritanya dan problem yang dialaminya – untuk mendirikan sebuah Negara. “Kita akan membangun ekonomi walaupun penuh dengan luka, dan kita akan membangun sebuah kekuatan yang mampu menghadapi kekuatan yang menghadang, dan kita harus merencanakan banyak hal!” dan akhirnya percobaan itu berhasil.

Dan ketika Amerika berusaha untuk meng-embargonya dan mencoba untuk menyerangnya dan mencoba membenturkan Iran dengan Irak, perang media, perang ekonomi, dan Imam Khomeini telah mempelajari realita itu serta koalisi antara Amerika dan Eropa dalam politik memiliki banyak lubang kelemahan dalam sisi ekonomi. Akhirnya beliaupun meruntuhkan embargo yang dipaksakan Amerika terhadap Iran dimana yang awalnya memaksa sekutu-sekutunya di Eropa untuk ikut dalam meng-embargo Iran namun pada akhirnya kerjasama Iran dan Eropa berlanjut. Dan Iran telah melakukan sebuah ujicoba yang berhasil dan disaksikan oleh dunia, setidaknya itu sebuah pesan untuk Negara Dunia Ketiga. Adalah hal yang mungkin bagi Negara Dunia Ketiga untuk melepaskan diri dari ketergantungan kepada amerika. Adalah sebuah keharusan untuk mendapatkan sebuah kemerdekaan yang hakiki.

Begitulah jika kalian ingin mendapatkan kemerdekaan itu maka tidak mungkin kecuali dengan memerdekakan nurani dan mengobati segala luka yang ada pada diri kalian. Sekarang kita berandai-andai, kita melihat sebagian rakyat yang berhasil melawan penguasa zalim seperti ini, kita berkata kepada manusia yang mencoba mencari-cari titik lemah dari Republik Islam Iran untuk mengatakan bahwa percobaan itu gagal atau sebuah masa depan yang gelap. Maka saya katakan: pelajarilah sisi-sisi lainnya. Problematika kita di timur adalah kita selalu melihat sisi negatif politik, keamanan, ekonomi dan agama dan kita tidak melihatnya dalam sudut pandang yang positif. Untuk itu sudah saatnya kita keluar dan berpikir positif dan meninggalkan sudut pandang yang negatif.

Begitu juga ketika kita melihat masalah Israel. Dimana dunia arab ditahun 1950, 1960, 1970 an melihat Israel sebagai kekuatan yang tak terkalahkan, atau sebagaimana dikatakan oleh para pemimpin arab bahwa melawan Israel berarti melawan Amerika dan kita semua tidak memiliki kekuatan untuk melawan Amerika. Dan mereka berkata jika kalian mau berdampingan dengan Israel maka kalian akan mendapatkan kehidupan yang layak dan tenteram, karena kelayakan dan ketentraman itu (saat itu) tidak ada di mesir, Jordan dan tidak ada juga di negara-negara teluk. Maka logika itu dikatakan sebagai penyakit kanker agar dunia ketiga memahami logika bahwa Israel bukanlah sebuah bangsa menjajah tanah bangsa lain tetapi sebuah peradaban yang ingin dipaksakan kepada bangsa lain. Ketika orang berkata hanya slogan maka beliau berkata dengan realita.

Seperti yang dikatakan orang, Al-Quds adalah pasangan dari Pan Arabisme, Al Quds adalah pasangan pasangan dari keislaman dan juga kemanusiaan. Dan beliau juga berkata bahwa beliau juga berharap kelak Al-Quds selalu diingat sepanjang tahun, Al-Quds juga sebagai sikap yang mencerminkan sikap pada setiap permasalahan. Tetapi sebgaimana kebiasaan mereka mengatakan Yawm Al-Quds itu produk Iran, bahkan orang-orang palestina sendiri tidak menyambut Yawm Al-Quds dan (anehnya) mereka merencanakan perang terhadap Israel.

Dan jika kalian berbicara tentang kemenangan 25 Mei atau kemenangan Lebanon atau kemenangan para pejuang, maka kalian harus berbicara tentang kemenangan revolusi Imam Khomeini ridwanullahi alaih dalam rencananya, ruhnya, spiritnya, karena dialah yang memberikan semua spirit ini kepada semua pahlawan dan syuhada yang telah berjuang dengan penuh kesadaran dan mengerti bagaimana memulai dan bagaimana mengakhiri perjuangan. Seandainya tidak ada spirit tersebut yang dilepaskan menjadi pemikiran dalam akal kita, menjadi perasaan dalam hati, menjadi gerakan dalam keinginan kita dalam menghadapi tantangan maka kita tidak akan dapat mengerti arti sebuah kemenangan. Dan masih banyak yang berkata disekitar kita dalam kekuatan Lebanon itu masih tersimpan banyak kelemahan-kelemahan! Maka biarkanlah Lebanon lemah! Hati-hati jangan berikan keberanian kepada Lebanon! Jangan biarkan Lebanon percaya diri! Biarkan Lebanon seorang diri! Jadikan Lebanon seolah ia menjadi anak yatim! Sebagaimana negara-negara arab mempercayainya. Mereka takut dengan perjuangan sedangkan imam Khomeini dalam seluruh akalnya adalah perjuangan. Beliau memberikan kekuatan dengan pikiran dan rencananya. Sedangkan sebagian yang lain sampai sekarang masih takut dengan perjuangan bahkan sebagian gemetar ketika membicarakah daerah pertanian shebaa (tanah Lebanon yang masih diduduki Israel). Kemudian mereka berfilsafat apakah daerah shebaa milik Lebanon? atau Syria? Apakah PBB mengakuinya? Apakah arab mengakuinya? dan seterusnya. Berapa banyak kita mematikan filsafat seperti itu dan berapa banyak kita kalahkan filsafat seperti itu?.

Kemudian palestina...
Israel adalah Amerika dan mayoritas Negara-negara arab berpihak pada Amerika sedangkan dunia Eropa berwajah dua, satu untuk Amerika dan satu untuk lainnya. Tetapi pejuang palestina, rakyat palestina, wanita-wanita palestina, para orang tua palestina mampu menyeret Israel kepada masalah yang rumit. Apakah kalian mengira bahwa PBB datang untuk menyelesaikan masalah Palestina? Begitu juga apakah Amerika ikut campur untuk menyelesaikan masalah palestina? Saya ingin katakan bahwa mereka datang bukan untuk menyelesaikan masalah palestina tetapi untuk kepentingan Israel. Maka saya melihat tidak ada pilihan bagi rakyat palestina kecuali melanjutkan intifada (perlawanan) dan maju dan tidak ada pilihan bagi negara-negara arab jika mereka masih menghormati ke-arab-an mereka untuk bergabung dalam intifada itu baik dalam sisi politik atau ekonomi atau media dan seterusnya. Dan Imam Khomeini melakukan semua itu kepada setiap para pejuang di Lebanon, di palestina, dan setiap pejuang kebebasan dan memiliki akal dalam pikiran mereka, nurani dalam hati mereka. Maka kepada kalian, pelajarilah beliau dengan baik, pelajarilah istilah-istilah yang beliau lontarkan, dan jangan sekalipun mentertawakan kalimat Setan besar, sedang maupun kecil. Bisa jadi masalah kita sesungguhnya adalah kita pecandu setan dan melupakan Allah..

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُولَـٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

" Dan janganlah keadaan kalian seperti orang-orang yang telah lupa kepada Allah, maka Allah-pun lupa kepada diri-diri mereka, merekalah orang-orang yang fasik" (QS. Al Hasyr : 19)

Saya akhiri ceramah ini dengan memohon ampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah maha Pengampun dan Maha Penyayang..
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber


Kamis, 23 Agustus 2012

Tafsir Tematik: Tauhid dan Syirik dalam Pandangan Al-Qur'an


Tauhid merupakan pembahasan yang paling penting di dalam al-Qur’an al-Karim dan seluruh kitab-kitab samawi. Para nabi dan para washi telah mengajak umat manusia kepada ketauhidan dan memberi peringatan kepada mereka dari bahaya syirik dan menyembah berhala.

Tema yang kami pilih dalam pembahasan tafsir tematik pada bagian kedua ini adalah tauhid dan syirik. Tema ini termasuk masalah penting yang banyak disinggung dan dibicarakan oleh ayat-ayat al-Qur’an di dalam berbagai suratnya. Diantara ayat yang menjelaskan tema tersebut adalah ayat 31 dalam surat al-Haj. Ayat yang mulia itu berbunyi:
"Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh".

Tema perumpaman di atas, yaitu tauhid dan syirik merupakan persoalan yang mendapat perhatian semua agama. Keduanya itu diserupakan dengan langit dan jatuh darinya. Perhatikanlah penjelasan yang akan kami sajikan berikut ini.
Penjelasan
Allah Swt berfirman: "Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit".
Di dalam ayat ini tauhid diserupakan dengan langit dan syirik diserupakan dengan jatuh dari langit yang memiliki matahari, bulan dan bintang yang merupakan sumber cahaya, sinar dan keberkahan.
Di samping itu bahwa langit itu sendiri memiliki keindahan dan keagungan tertentu.
Tauhid merupakan sumber cahaya dan keagungan Tuhan dan mendatangkan keberkahan dan sinar penerang bagi monoteisme. Adappun syirik sebagaimana jatuh dari langit tauhid.
Dengan memperhatikan mukaddimah ini, ayat di atas berkata: "Mereka yang menolak untuk bertauhid kepada Allah Swt dan menjadikan syarik (teman) bagi-Nya dan keluar dari barisan monoteisme, sama dengan orang yang jatuh dari langit". Sudah pasti orang yang jatuh dari langit ke bumi itu tidak mungkin hidup lagi.
Allah Swt berfirman : "Lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh".

Seorang musyrik yang jatuh dari langit ke bumi tidak akan selamat, karena -ketika tergantung di udara- hanya ada satu di antara dua jalan yang pada akhirnya mati atau hancur. Dua jalan tersebut ialah:

Pertama: Dia menjadi mangsa burung-burung buas pemakan daging dan bangkai yang terbang di udara. Masing-masing burung itu akan memakan sebagian daging yang ada di tubuhnya, sehingga ia tidak sampai ke bumi kecuali tinggal tulangnya saja.

Kedua: Dia akan ditiup angin kencang yang akan melemparkannya ke tempat yang jauh yang tidak ada manusia untuk menyelamatkannya.

Kesimpulannya bahwa seorang musyrik itu di dalam ayat ini diserupakan dengan seseorang yang jatuh dari langit ke bumi dan di tengah perjalanannya itu ia disergap burung-burung pemangsa daging dan bangkai atau ia akan ditiup oleh angin kencang ke tempat yang jauh yang tidak mungkin dijangkau oleh mansuia.
Pesan-pesan ayat
1. Apakah yang dimaksud dengan burung-burung ?
Tidak menutup kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan burung-burung itu adalah hawa nafsu.[1]
Seseorang yang musyrik itu menjadi mangsa hawa nafsunya. Sebagian dari hawa nafsu itu mempermalukan seseorang, sebagian lainnya menghilangkan kemanusiaannya, dan sebagian lagi menghilangkan keberanian, kehormatannya dan lain sebagainya. Pada akhirnya tidak ada lagi yang tersisa dari seorang musyrik. Karena burung-burung hawa nafsu telah melahap apa yang terdapat pada dirinya, baik kepribadiannya maupun kemanusiaannya.
2. Apakah yang dimaksud dengan angin?
Bisa jadi yang dimaksudkan dengan angin yang disinggung di dalam ayat tersebut dan yang melemparkan seorang musyrik ke tempat yang jauh yang sulit dijangkau oleh manusia adalah setan-setan pengkhianat.[2] Maka seorang musyrik itu, apabila ia dapat lolos dari burung-burung hawa nafsu, dia akan ditawan oleh angin setan pendurhaka. Dia akan dibawa ke suatu tempat yang tidak ada lagi penolong baginya sehingga ia akan hidup dalam kesesatan dan akhirnya celaka.
3. Orang-orang musyrik tidak pernah mendapatkan ketentraman
Sesungguhnya grafitasi bumi itu merupakan nikmat Allah Swt. Karena dengan grafitasi itu menjadikan segala sesuatu menjadi seimbang. Tanpa grafitasi maka segala sesuatu yang ada di muka bumi ini tidak akan eksis dan seimbang. Kita lihat bahwa rumah-rumah, Sawah-Sawah, pabrik-pabrik, sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit menjadi eksis pada tempatnya masing-masing berkat adanya grafitasi yang membuatnya seimbang. Grafitrasi ini berpusat di bumi, dan semakin kita jauh dari bumi, maka grafitasi semakin berkurang. Segala sesuatu itu akan kehilangan keseimbangannya apabila berada di luar grafitasi bumi. Oleh karena itu para astronot mengikuti training dan latihan di tempat-tempat yang hampa udara dan tidak terdapat grafitasi sebelum mereka berangkat ke laur angkasa untuk beberapa waktu lamanya.

Eksperimen yang dilakukan untuk hampa dari grafitasi adalah jatuh secara bebas dari tempat-tempat yang memiliki ketinggian tertentu. Ketika itu seseorang dapat merasakan suatu kehidupan yang belum pernah ia alamai sebelumnya. Karena itu, para dokter berpendapat bahwa kebanyakan dari ortang-orang yang jatuh dari tempat yang tinggi, akan mengalami terhentinya detak jantung sebelum sampai ke permukaan bumi.

Seorang musyrik -ketika jatuh dari langit- merasakan kehilangan keseimbangan. Pada saat itu kegoncangan jiwa menyelimuti seluruh wujud dirinya. Demikianlah, seseorang yang jatuh dari tauhid dan menuju kepada kemusyrikan, tidak akan merasakan ketenangan dan ketentraman dalam dirinya. Dia akan merasakan adanya goncangan dan kegelisahan. Ketenangan dan ketentraman hanya di peroleh di bawah naungan tauhid, jauh dari kemusyrikan dan penyembahan berhala. Allah Swt berfirman : "Ketahuilah, bahwa dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tentram".[3] Masalah ini telah diakui bahkan oleh orang-orang musyrik itu sendiri. Terdapat firman Allah di dalam surat al-Ankabut ayat: 65:

"Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya". Hal itu karena mereka mengetahui dengan baik bahwa tidak seorang pun yang mampu mendatangkan ketenangan selain Allah Swt. Oleh karena itu mereka berdoa dengan penuh keikhlasan kepada-Nya. Adapaun patung-patung, mereka telah mengetahui, tidak akan mampu menyelamatkannya. Tetapi ketauhidan mereka hanya bersifat sementara saja. Setelah mereka telah sampai di tepi pantai dan kapal mereka telah bersandar, mereka kembali lagi kepada kemusyrikan.

Kesimpulannya bahwa syirik dan menyembah patung-patung itu menyebabkan kepada kegoncangan jiwa dan kegelisahan. Sementara tauhid kepada Allah Swt akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman.

4. Orang musyrik tidak memiliki kehendak

Seseorang -sebelum jatuh- memiliki kehendak. Tetapi ketika telah jatuh dan tergantung di udara, kehendaknya itu sirna dan tidak dapat lagi mengambil suatu keputusan. Dan demikian pula, seseorang yang musyrik ketika jatuh dari langit tauhid, ia akan kehilangan kehendak dan kemampuan untuk mengambil keputusan.
Pentingnya tauhid
Tauhid merupakan pembahasan yang paling penting di dalam al-Qur’an al-Karim dan seluruh kitab-kitab samawi. Para nabi dan para washi telah mengajak umat manusia kepada ketauhidan dan memberi peringatan kepada mereka dari bahaya syirik dan menyembah berhala.

Di dalam ajaran agama, tidak ada persoalan yang lebih penting selain tauhid. Buktinya adalah terdapat sebuah ayat al-Qur’an yang diulang-ulang pada dua tempat, yaitu pada surat an-Nisa ayat 48 dan 116. Ayat itu berbunyi: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni orang musyrik kepada-Nya, tetapi mengampuni dosa-dosa selainnya bagi orang yang dikehendaki-Nya".

Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa maksud dari ampunan adalah ampunan yang tanpa bertaubat. Adapun dengan bertaubat, maka Allah pun akan mengampuninya. Kebanyakan sahabat -kecuali sebagian kecil saja seperti Imam Ali As- sebelumnya adalah sebagai orang-orang musyrik. Dan ketika mereka masuk Islam dan bertaubat, maka Allah mengampuni dosa-dosa syirik mereka.

Apabila seorang pendurhaka mati sebelum bertaubat, maka dosa-dosanya tidak akan diampuni Allah apabila ia seorang musyrik. Bahkan tidak ada harapan untuk dapat diampuni. Tetapi apabila maksiat dan dosa-dosanya itu selain kemusyrikan, maka ada kemungkinan akan diampuni oleh Allah Swt dan para wali-Nya pun akan memberikan syafaat kepadanya. Adapun orang musyrik tidak akan diampuni dosanya dan juga tidak akan mendapatkan syafaat. Dengan demikian bahwa syirik itu tidak akan mendapatkan tempat ampunan dan syafaat. Dari sini dapat diketahui betapa penting, berharga dan agungnya masalah tauhid di dalam kehidupan dunia dan akhirat. Sesungguhnya tauhid merupakan sumber kebahagiaan. Sedangkan syirik sumber kesengsraan dan menghancurkan seluruh kebaikan.

Pertanyaan yang terkadang tersirat di hati kita adalah: Apa sebab masalah tauhid dianggap begitu penting? Dan apa sebab syirik itu mendapat kecaman sedemikian rupa?

Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah: Filsafat mengenai pentingnya masalah tauhid dan dikecamnya kemusyrikan adalah beberapa perkara. Kami akan jelaskan berikut ini sebagian darinya:

Pertama: Manfaat dan keberkahan yang paling utama dari tauhid adalah bersatunya masyarakat dan umat manusia. Sesungguhnya umat manusia berbeda-beda satu sama lainnya dalam bahasa, adat istiadat, akidah, pemikiran, budaya, dan lain sebagainya. Misalnya di satu negara seperti Indonesia yang merupakan bagian kecil dari dunia, terdapat berbagai macam bahasa, budaya dan suku. Bandingkanlah dengan negara-negara lainnya diseluruh belahan dunia. Terdapat ribuan bahasa, suku, dan budaya. Tetapi gerangan apakah mata rantai penghubung di antara masyarakat dunia itu? Apakah titik-titik persamaan di anatara mereka? Apabila berbagai bangsa dan pemerintahan itu diputuskan hidup di bawah sebuah pemerintahan yang bersifat mendunia, apakah titik persamaan di anatara mereka?

Tidak diragukan lagi bahwa tauhid yang mengakar di dalam keyakinan mereka merupakan faktor terpenting yang menjadikan mereka bersatu. Tauhid merupakan poros yang paling baik untuk mempersatukan mereka dan sebagai tambang yang sangat kokoh sehingga mereka semua dapat berpegang dengannya.

Allah Swt telah menjelaskan masalah ini di dalam ayat 64 pada surat al-Imran: "Katakanlah: "Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah".

Persatuan tersebut nampak sekali ketika musim haji di dataran Hijaz. Kita saksikan jutaan muslimin dari berbagai negara dengan warna kulit, bahasa, budaya, dan adat istiadat yang berbeda-beda. Mereka seluruhnya serempak menyembah Allah Swt dengan menghadap Ka'bah. Mereka bagaikan berbagai sungai yang jernih yang sedang mengalir menuju satu lautan yang tak bertepi yang bersumber dari bukit-bukit kemanusiaan yang luhur dan berkumpul di sekitar Ka'bah. Di sana mereka mengumandangkan kekhudu'an dan kepasrahan mereka kepada Al-Haq Swt.

Dalam acara shalat jum'at yang dilakukan di Makkah al-Mukarramah -sebelum pergi ke Arafah, biasanya- dihadiri lebih dari satu juta muslimin. Shalat tersebut merupakan shalat jum'at terbesar bagi kaum muslimin dalam setahun. Mereka berdiri tegap di dalam satu barisan penghambaan dan mengangkat kedua tangan mereka secara serempak di dalam takbir sambil berdoa dan mengagungkan-Nya. Mereka melakukan ruku' dan sujud secara serempak bersama-sama. Sungguh betapa hal itu melambangkan keindahan persatuan dan persaudaraan sesama muslim.[4]

Betapa indah dan menariknya apabila persatuan umat Islam dunia yang berbagai macam budaya ini, berpegang teguh kepada "tali Allah".

Dengan demikian, persatuan merupakan efek dan manfaat yang sangat penting bagi tauhid. Sebaliknya dengan syirik yang mengakibatkan kepada perpecahan dan ikhtilaf. Orang-orang Arab jahiliyah mempunyai patung sebanyak 360 buah. Hal ini berarti ikhtilaf dan perpecahan mereka mencapai 360 kelompok kecil dan masyarakat mereka terbagi kepada 360 bagian walaupun mereka masyarakat kecil. Sudah tentu bahwa mayarakat semacam itu tidak lepas dari pertikaian, pertentangan, pembunuhan, kemungkaran dan tidak memperoleh ketenangan dan kebahagiaan. Tetapi masyarakat yang bernaung di bawah bendera tauhid dan petunjuk Islam dan Rasulullah, pasti lebih unggul di bandingkan masyarakat mana pun.

Kedua: Efek dan manfaat tauhid yang lainnya adalah memberikan semangat dan kekuatan kepada orang-orang yang bertauhid. Sementara kemusyrikan itu akan mencabut semangat dan kekuatan orang-orang musyrik.

Ketika kaum muslimin berada di kota Makkah dan jumlah mereka masih sangat sedikit, kaum musyrikin melakukan makar dan kezaliman terhadap Rasulullah Saw dan kaum muslimin. Setiap hari kaum musyrikin berusha menciptakan kezaliman yang baru untuk memadamkan cahaya Islam dan mengikis akar-akarnya.

Pada suatu hari para pemuka Quraisy datang menjumpai Abu Thalib untuk melakukan perdamaian kepada Rasulullah Saw. Setelah perdebatan yang agak alot di antara dua pihak, Rasulullah Saw berkata kepada Abu Jahal: "Ajaklah mereka untuk menerima satu kalimat yang akan membuat mereka kuat dan menguasai orang-orang Arab dan orang-orang Ajam pun akan mengikuti ajaran mereka". Abu Jahal berkata: "Satu kalimat saja mudah, aku siap menerimamu dengan sepuluh kalimat". Rasulullah Saw bersabda: "Ucapkanlah 'La Ilaaha Illallah', (tiada Tuhan kecuali Allah) dan tinggalkanlah ssekutu yang selain Allah".[5]

Ungkapan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw hingga kini masih merupakan solusi bagi umat manusia yang telah jenuh dengan berbagai peperangan, ikhtilaf dan pertikaian. Hal itu karena bernaung di bawah pohon tauhid yang baik adalah merupakan solusi satu-satunya untuk memecahkan problema ini sekaligus memperoleh kekuasaan dan kemuliaan dengan keamanan, ketenangan, ketentraman dan keadilan yang sejati.

Marilah coba kita pikirkan, bagaimana Islam telah merubah Arab jahiliyah di kota Makkah dan Madinah, dimana mereka tenggelam dalam ikhtilaf dan pertikaian berdarah, menjadi bangsa yang kuat dan mulia dan mampu -di bawah bendera ukhuwwah dan persatuan- membuka belahan barat dan timur dunia kurang dari setengah abad? Bukankah kemuliaan itu merupakan buah dari tauhid dan berpegang kepada tali Allah?

Ketiga: Tauhid menyebabkan ketenangan dan ketentraman masyarakat. Sebab utama terjadinya berbagai kejahatan dan maksiat di dunia ini adalah kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala. Dan syirik itu tidak terbatas hanya pada menyembah kayu dan batu saja. Bahkan syirik itu mencakupi setiap ibadah dan ketundukan kepada selain Allah baik yang berupa kedudukan, hawa nafsu dan lain sebagainya. Ini semua merupakan bagian dari kemusyrikan. Seseorang ketika menyembah hal-hal tersebut, ia lalai dari mengingat Allah sehingga ia berani melakukan berbagai perbuatan dosa, maksiat dan berbagai kejahatan.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam riwayat bahwa setan mengecup uang dirham dan dinar yang dicetak pertama kali di dunia. Kemudian ia memandangnya dan meletakkannya di hadapan kedua matanya, lalu menempelkannya ke bagian dadanya dan berkata: "Engkau adalah permata dan buah hatiku. Aku tidak peduli lagi kepada anak Adam apabila mereka tidak lagi menyembah patung karena telah mencintaimu. Cukuplah bagiku bahwa mereka itu betul-betul mencintaimu".[6]

Kemusyrikan masih saja terdapat di mana-mana pada zaman kita sekarang ini, sekalipun logika dan pemikiran telah menggeser kebodohan. Berapa banyak tindak kejahatan yang dilakukan akibat menumpuk uang dan harta kekayaan?! Tidak lagi ada keamanan dan ketentraman pada masyarakat zaman sekarang ini. Bahkan pertikaian dan kegelisahan telah menguasai mereka. Sekiranya manusia itu bertauhid, pasti mereka akan memperoleh keamanan, ketenangan, dan ketentraman.

Untuk mencapai masyarakat yang bertauhid, langkah pertama, kita harus menghancurkan tempat-tempat berhala yang terdapat di dalam hati kita. Setiap kali kita menemukan tempat-tempat penyembahan patung-patung tersebut dan patung-patung yang terdapat di sekitar diri kita, haruslah kita pecahkan. Betapa indah dan senangnya kondisi hati yang seperti Ka'bah setelah kemenangan Islam dimana patung-patung di sekitarnya telah dihancurkan.

Sesungguhnya hati sebagian orang mirip dengan Ka'bah sebelum Islam yang dipenuhi dengan patung-patung. Yaitu patung-patung yang berupa kekayaan, harta benda, wanita, anak-anak, kedudukan, pangkat, angan-angan dan lain sebagainya.

Hati adalah Baitullah. Kita harus membersihkannya dari semua jenis patung dan kemusyrikan, agar kita dapat memandang pemilik aslinya.[]

--------------------------------------------------------------------------------


[1] . Lihat Al-Amtsal 10 : 306.


[2] . Lihat tafsir al-Amtsal 10 : 306 – 307..


[3] . Surat Ar-Ra'd : 28


[4] . Sangat disayangkan bahwa shalat dan pertemuan besar ini, tidak digunakan untuk menyelesaikan berbagai problem umat Islam pada saat sekarang ini. Tetapi yang terjadi hanyalah imam jum'at mengulang-ulang masalah yang terjadi atas kaum muslimin sejak ratusan tahun.


[5] . Lihat Furughu Abadiyat 1: 222, Al-Muntazhim 2: 369 dan Majma'ul Bayan 8: 343.


[6] . Mizanul Hikmah, bab3750, hadits ke 19026.
tafsir tematik

Sumber 

Syair Habib Idrus bin Salim Al Djufrie (Guru Tua) Pendiri Al Khairat, tentang Kecintaan kepada Rasulullah saww

Syair Habib Idrus bin Salim Al Djufrie (Guru Tua) Pendiri Al Khairat, tentang Kecintaan kepada Rasulullah saww

بِكُم يَا حَبِيْبَ الله أرَجُو شَفَاعَةً

Denganmu wahai kekasih Allah aku mengharap syafaat

وَالمرتَضَى والسَّيدَيْنِ وبِالحَسَنَا

Dan dengan al-Murtadha, Hasan, Husain dan keduanya

سَفِينَةُ نُوحٍ قَدْ نجَا مَن بهَا النَّجَا

Bahtera Nuh maka selamat siapa yang di dalamnya

هُمُو وَلَعُمرِي أدْرَكَ الفَوزَ والأمْنَا

Demi hidupku, mereka telah mendapat kemenangan dan keamanan

تَمَسَّك بحِزْبِ الفَطِمِيِّينَ تَهتَدِي

Berpegang teguhlah dengan kelompok Fatimah pasti mendapat petunjuk

فَمَنْ لَمْ يَكُن مِن حِزبِهِم يَقْرَعُ السَّنَا

Siapa yang bukan dari kelompoknya sungguh telah melepas ridanya

وَلا بَأسَ في الدُّنْيَا عَلى مِن يُحِبُّهُمْ

Tiada khawatir di dunia siapa yang mencintai mereka

وَلا خَوْفٌ في لأُخْرَى يَرَاهُ وَلا حُزْنَا

Tiada ketakutan melihatnya di akhirat tidak pula bersedih

Sumber 

Rabu, 22 Agustus 2012

Syiah Tegas Menolak Isu Tahrif Al-Quran

" Syarif al-Murtadha (w. 436H) menyatakan al-Qur'an telah dijaga dengan rapi karena ia adalah mu'jizat dan sumber ilmu-ilmu Syarak,bagaimana ia boleh diubah dan dikurangkan? Selanjutnya beliau meyatakan orang yang mengatakan al-Qur'an itu kurang atau lebih tidak boleh dipegang pendapat mereka (al-Tabrasi, Majma' al-Bayan, I, hlm. 15)."


Sesungguhnya Syi'ah mempercayai bahwa al-Qur'an yang ada sekarang adalah benar dan mereka beramal dengannya. Tetapi tidak dinafikan bahwa terdapat kitab-kitab karangan ulama Syi'ah seperti al-Kulaini dan lain-lain yang telah mencatat tentang kurang atau lebihnya ayat-ayat al-Qur'an yang ada sekarang, tetapi ketahuilah anda bahwa bukanlah semua riwayat itu sahih malah ada yang sahih dan ada yang dha'if. Contohnya al-Kulaini telah meriwayatkan di dalam al-Kafi bahwa Rasulullah Saww telah dilahirkan pada 12 Rabi'ul Awwal tetapi riwayat tersebut ditolak oleh mayoritas ulama Syi'ah karena setelah melalui penelitian yang lebih serius mereka berpendapat bahwa Nabi Saww telah dilahirkan pada 17 Rabi'ul Awwal.
Begitu juga mereka menolak kitab al-Hassan bin al-'Abbas bin al-Harisy yang dicatat oleh al-Kulaini di dalam al-Kafi, malah mereka mencela kitab tersebut. Begitu juga mereka menolak riwayat al-Kulaini bahwa orang yang disembelihkan itu adalah Nabi Ishaq bukan Nabi Isma'il AS (al-Kafi, IV, hlm. 205). Justeru itu riwayat al-Kulaini umpamanya tentang kekurangan dan penambahan ayat-ayat al-Qur'an adalah riwayat yang lemah (Majallah Turuthuna, Bil. XI, hlm. 104).
Karena ulama Syi'ah sendiri telah menjelaskan kelemahan-kelemahan yang terdapat di dalam al-Kafi, malah mereka menolak sebahagian besar riwayat al-Kulaini. Begitu juga dengan kitab al-Istibsar fi al-Din, Tahdhib al-Ahkam karangan al-Tusi dan Man La Yahdhuruhu al-Faqih karangan Ibn Babuwaih, sekalipun 4 buku tersebut dikira muktabar di dalam mazhab Syi'ah, umpamanya al-Kafi yang mempunyai 16,199 hadith telah dibagikan menjadi 5 bagian (di antaranya):
1. Sahih, mengandungi 5,072 hadith.
2. Hasan, 144 hadith.
3. al-Muwaththaq, 1128 hadith (iaitu hadith-hadith yang diriwayatkan oleh orang yang bukan Syi'h tetapi mereka dipercayai oleh Syi'ah).
4.  al-Qawiyy, 302 hadith.
5. Dhaif, 9,480 hadith. (Lihat Sayyid Ali al-Milani, al-Riwayat Li Ahadith al-Tahrif di dalam Turuthuna, Bil. 2, Ramadhan 1407 Hijrah, hlm. 257).
Oleh itu riwayat-riwayat tentang penambahan dan kekurangan al-Qur'an telah ditolak oleh ulama Syi'ah Imamiyah mazhab Ja'fari dahulu dan sekarang. Syaikh al-Saduq (w. 381H) menyatakan "i'tiqad kami bahwa al-Qur'an yang telah diturunkan oleh Allah ke atas Nabi Muhammad SAWW dan keluarganya adalah di antara dua kulit (buku) yaitu al-Qur'an yang ada pada orang banyak dan tidak lebih dari itu. Setiap orang yang mengatakan al-Qur'an lebih dari itu adalah suatu kedustaan." (I'tiqad Syaikh al-Saduq, hlm. 93). Syaikh al-Mufid (w. 413H) menegaskan bahwa al-Qur'an tidak kurang sekalipun satu kalimat, satu ayat ataupun satu surah (Awa'il al-Maqalat, hlm. 55). Syarif al-Murtadha (w. 436H) menyatakan al-Qur'an telah dijaga dengan rapi karena ia adalah mu'jizat dan sumber ilmu-ilmu Syarak, bagaimana ia boleh diubah dan dikurangkan? Selanjutnya beliau meyatakan orang yang mengatakan al-Qur'an itu kurang atau lebih tidak boleh dipegang pendapat mereka (al-Tabrasi, Majma' al-Bayan, I, hlm. 15). Syaikh al-Tusi (w. 460H) menegaskan bahwa pendapat mengenai kurang atau lebihnya al-Qur'an adalah tidak layak dengan mazhab kita (al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, I, hlm.3). Begitu juga pendapat al-Allamah Tabataba'i dalam Tafsir al-Mizan, Jilid 7, hlm. 90 dan al-Khu'i dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim, I, hlm. 100, mereka menegaskan bahwa al-Qur'an yang ada sekarang itulah yang betul dan tidak ada penyelewengan.
Demikianlah sebahagian daripada pendapat-pendapat ulama Syi'ah dahulu dan sekarang yang mengakui kesahihan al-Qur'an yang ada pada hari ini. Imam Ja'far al-Sadiq AS berkata,"Apabila datang kepada kamu dua hadith yang bertentangan maka hendaklah kamu membentangkan kedua-duanya kepada Kitab Allah dan jika tidak bertentangan dengan Kitab Allah, maka ambillah dan jika ia bertentangan Kitab Allah, maka tinggalkanlah ia" (Syaikh, al-Ansari, al-Rasa'il, hlm. 446).
Kata-kata Imam Ja'far al-Sadiq itu menunjukkan al-Qur'an yang wujud sekarang ini adalah al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah ke atas Nabi Saww tanpa tambah dan kurang jika tidak, tidak menjadi rujukan kepada Muslimin untuk membentangkan hadith-hadith Nabi Saww yang sampai kepada mereka. Oleh itu mazhab Syi'ah Ja'fari samalah dengan mazhab Ahlus Sunnah dari segi keyakinan mengenai penjagaan al-Qur'an dari penyelewengan, dan mengenai riwayat-riwayat tahrif al Qur'an ternyata juga banyak terdapat di dalam kitab-kitab  Sahih Ahlus Sunnah sendiri yang mencatatkan bahwa al-Qur'an telah ditambah, dikurang dan ditukarkan, di antaranya seperti berikut:
1. Al-Bukhari di dalam Sahihnya, VI, hlm. 210 menyatakan (Surah al-Lail (92):3 telah ditambah perkataan "Ma Khalaqa" oleh itu ayat yang asal ialah "Wa al-Dhakari wa al-Untha" tanpa "Ma Khalaqa". Hadith ini diriwayatkan oleh Abu al-Darda', kemudian ianya dicatat pula oleh Muslim, Sahih,I,hlm. 565; al-Turmudhi, Sahih, V, hlm. 191.
2. Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 394; al-Turmudhi, Sahih, V, hlm. 191 menyatakan (Surah al-Dhariyat (51):58 telah diubah dari teks asalnya "Inni Ana r-Razzaq" kepada "Innallah Huwa r-Razzaq" yaitu teks sekarang.
3. Muslim, Sahih, I, hlm. 726; al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm. 224 meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari,"Kami membaca satu surah seperti Surah al-Bara'ah dari segi panjangnya, tetapi aku telah lupa, hanya aku mengingati sepotong dari ayatnya,"Sekiranya anak Adam (manusia) mempunyai dua wadi dari harta, niscaya dia akan mencari wadi yang ketiga dan perutnya tidak akan dipenuhi melainkan dengan tanah."
4. Al-Suyuti, al-Itqan, II, hlm. 82, meriwayatkan bahwa 'Aisyah menyatakan Surah al-Ahzab (33):56 pada masa Nabi SAWW adalah lebih panjang yaitu dibaca "Wa'ala al-Ladhina Yusaluna al-Sufuf al-Uwal" setelahnya "Innalla ha wa Mala'ikatahu Yusalluna 'Ala al-Nabi..." Aisyah berkata,"Yaitu sebelum Uthman mengubah mushaf-mushaf."
5. al-Muslim, Sahih, II, hlm. 726, meriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari membaca setelah Surah al-Saf (61):2, "Fatuktabu syahadatan fi A'naqikum..."tetapi itu tidak dimasukkan ke dalam al-Qur'an sekarang.
6. Al-Suyuti, al-Itqan, I, hlm. 226 menyatakan bahwa dua surah yang bernama "al-Khal" dan "al-Hafd" telah ditulis dalam mushaf Ubayy bin Ka'b dan mushaf Ibn 'Abbas, sesungguhnya 'Ali AS mengajar kedua-dua surah tersebut kepada Abdullah al-Ghafiqi, 'Umar dan Abu Musa al-Asy'ari juga membacanya.
7. Malik, al-Muwatta', I, hlm. 138 meriwayatkan dari 'Umru bin Nafi' bahwa Hafsah telah meng'imla' "Wa Salati al-Asr" selepas Surah al-Baqarah (2): 238 dan ianya tidak ada dalam al-Qur'an sekarang. Penambahan itu telah diriwayatkan juga oleh Muslim, Ibn, Hanbal, al-Bukhari, dan lain-lain.
8. Al-Bukhari, Sahih, VIII, hlm. 208 mencatatkan bahwa ayat al-Raghbah adalah sebahagian daripada al-Qur'an iaitu "La Targhabu 'an Aba'ikum" tetapi ianya tidak wujud di dalam al-Qur'an yang ada sekarang.
9. Al-Suyuti, al-Itqan, III, hlm. 82; al-Durr al-Manthur, V, hlm. 180 meriwayatkan daripada 'Aisyah bahwa dia berkata,"Surah al-Ahzab dibaca pada zaman Rasulullah SAWW sebanyak 200 ayat, tetapi pada masa 'Uthman menulis mushaf ianya tinggal 173 ayat sahaja."
10. Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, V, hlm. 192 mencatatkan bahwa di sana terdapat ayat yang tertinggal selepas Surah al-Ahzab (33):25 iaitu "Bi 'Ali bin Abi Talib". Jadi ayat yang dibaca, "Kafa Llahul Mu'minin al-Qital bi 'Ali bin Abi Talib."
11. Ibn Majah, al-Sunan, I, hlm. 625 mencatat riwayat daripada 'Aisyah RD dia berkata: ayat al-Radha'ah sebanyak 10 kali telah diturunkan oleh Allah dan ianya ditulis dalam mushaf di bawah katilku, tetapi manakala wafat Rasulullah SAWW dan kami sibuk dengan kewafatannya, maka ianya hilang.
12. Al-Suyuti, al-Itqan, III, hlm. 41 mencatatkan riwayat daripada 'Abdullah bin 'Umar, daripada bapanya 'Umar bin al-Khattab, dia berkata,"Janganlah seorang itu berkata aku telah mengambil keseluruhan al-Qur'an, apakah dia tahu keseluruhan al-Qur'an itu? Sesungguhnya sebahagian al-Qur'an telah hilang dan katakan sahaja aku telah mengambil al-Qur'an mana yang ada." Ini bererti sebahagian al-Qur'an telah hilang.
Demikianlah di antara catatan para ulama Ahlus Sunnah mengenai al-Qur'an sama ada lebih atau kurang di dalam buku-buku Sahih dan muktabar mereka. Bagi orang yang mempercayai bahwa semua yang tercatat di dalam sahih-sahih tersebut adalah betul dan wajib dipercayai, akan menghadapi dilema, karena kepercayaan sedemikian akan membawa mereka kepada mempercayai bahwa al-Qur'an yang ada sekarang tidak sempurna, sama ada berkurangan atau berlebihan. Jika mereka mempercayai al-Qur'an yang ada sekarang adalah sempurna – dan memang sempurna - ini bererti sahih-sahih mereka tidak sempurna dan tidak sahih lagi. Bagi Syi'ah mereka tidak menghadapi dilema ini karena mereka berpendapat bahwa bukan semua riwayat di dalam buku-buku mereka seperti al-Kafi, al-Istibsar fi al-Din dan lain-lain adalah sahih, malah terdapat juga riwayat-riwayat yang lemah.
Oleh itu untuk mempercayai bahwa al-Qur'an yang ada sekarang ini sempurna sebagaimana yang dipercayai oleh Syi'ah mazhab Ja'fari, maka Ahlus Sunnah terpaksa menolak riwayat-riwayat tersebut demi mempertahankan kesempurnaan al-Qur'an. Dan mereka juga harus menolak riwayat-riwayat yang bertentangan dengan al-Qur'an dan akal seperti hadith yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim daripada Abu Hurairah,"Sesungguhnya Neraka Jahanam tidak akan penuh sehingga Allah meletakkan kakiNya, maka Neraka Jahanam berkata: Cukup, cukup."(Al-Bukhari, Sahih, III, hlm. 127; Muslim, Sahih, II, hlm. 482).
Hadith ini adalah bertentangan dengan ayat al-Qur'an Surah al-Sajdah (32):13 yang bermaksud,...."Sesungguhnya Aku akan penuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia." Juga bertentangan dengan Surah al-Syura (42):11 yang menafikan tajsim "Tidak ada suatu yang perkarapun yang menyerupaiNya."
Lantaran itu tidaklah mengherankan jika al-Suyuti di dalam Tadrib al-Rawi, hlm. 36 menyatakan bahwa al-Bukhari telah mengambil lebih 480 periwayat yang tidak disebut atau diambil oleh Muslim dan ia mengambil dari para perawi yang lemah, sama ada disebabkan oleh pembohongan dan sebagainya, sementara Muslim pula mengambil 620 periwayat yang tidak disebut atau diambil oleh al-Bukhari dan terdapat di dalamnya 160 periwayat yang lemah. Murtadha al-Askari pula menulis buku berjudul 150 sahabat fiktif, Beirut, 1968. Hanya nama-nama mereka saja disebutkan oleh al-Bukhari dan Muslim tetapi mereka sebenarnya tidak pernah ada sebelumnya hanya tokoh yang diada-adakan. Oleh itu 'sahih" adalah nama buku yang diberikan oleh orang tertentu, misalnya al-Bukhari menamakannya 'Sahih" yaitu sahih menurut pandangannya, begitu juga Muslim menamakan bukunya 'Sahih" yaitu sahih menurut pandangannya namun belum tentu shahih bagi ulama hadits lainnya.
Justru itu kitab-kitab 'sahih' tersebut hendaklah dinilai dengan al-Qur'an, karena Sahih yang sebenar adalah sahih di sisi Allah SWT. Dan kita bersaksi bahwa al-Qur'an yang ada di hadapan kita ini adalah sahih dan tidak boleh diperselisihkan lagi.
Dengan itu anda tidak lagi menganggap Syi'ah mempunyai al-Qur'an 'lebih atau kurang' isi kandungannnya karena mereka sendiri menolaknya. Dan telah dicatat di dalam kitab-kitab Sahih dan muktabar Ahlus Sunnah tetapi mereka juga menolaknya. Dengan demikian Syi'ah dan Sunnah adalah bersaudara di dalam Islam dan mereka wajib mempertahankan al-Qur'an dan beramal dengan hukumnya tanpa menjadikan 'ijtihad' sebagai alasan untuk menolak (hukum)nya pula.

Sumber

Pernyataan-pernyataan Imam-imam Ahlulbait tentang faham jabariyah

 Oleh : Al Ustad Umar Shahab

Dalam teologi dikenal tiga pandangan utama mengenai perbuatan manusia, yaitu pertama, pandangan kaum Jabariyah yang menganggap bahwa manusia majbur (jabr: terpaksa) dalam perbuatan-perbuatannya, alias tidak memiliki pilihan sama sekali. Kedua, pandangan yang menganggap bahwa manusia itu sepenuhnya merdeka dalam perbuatan-perbuatannya. Pandangan ini disebut Qadariyah. Dan ketiga, pandangan yang meyakini bahwa manusia itu antara terpaksa dan merdeka, amr bain amrain. Pandangan ini diyakini pengikut Ahlubait, sedangkan yang pertama dianut kaum Asy’ariyyah atau Ahlussunnah dan yang kedua dianut oleh kaum Mu’tazilah.
Berikut beberapa pernyataan dan kata-kata mutiara Imam-imam Ahlulbait terkait tema di atas.
1. Imam Ali Ibn Abitalib: "Jika (dimuka bumi ini berlaku hukum jabr) maka  tidak akan berlaku hukum pahala dan azab dan hukum perintah, larangan dan peringatan. Juga tidak ada artinya janji dan ancaman.  Selain itu, tidak perlu mengecam orang yang berbuat dosa  atau memuji orang yang berbuat baik. Bahkan orang yang berbuat baik lebih patut dikecam dibanding dengan orang yang berbuat dosa dan begitu juga sebaliknya, orang yang berbuat dosa lebih patut dibaiki daripada orang yang berbuat baik. Faham seperti ini adalah faham penyembah berhala dan musuh-musuh Tuhan”.
2. Imam Ja’far al-Shadiq: “Apa yang engkau dapat kecam terhadap seorang hamba, maka itu berarti datang darinya, dan apa yang engkau tidak dapat kecam terhadap seorang hamba, maka itu berarti perbuatan Allah. Allah berkata kepada seorang hamba: “Mengapa engkau melanggar? Mengapa engkau melakukan kebejatan? Mengapa engkau minum khamar? Dan Mengapa engkau berzina? Ini semua adalah perbuatan hamba. Allah tidak berkata kepada hamba: “Mengapa engkau sakit? Mengapa engkau pendek? Mengapa engkau putih? Dan mengapa engkau hitam? Karena semua ini adalah perbuatan Allah”.
3. Imam Musa al-Kazhim: “Kejahatan itu tidak terlepas dari tiga kemungkinan. Pertama, datang dari Allah, dan itu pasti bukan datang dari Allah, karena Tuhan tidak patut menghukum hamba atas sesuatu yang ia tidak perbuat. Kedua, datang dari Tuhan dan hamba sekaligus, dan itu juga tidak demikian, karena sekutu yang kuat tidak patut menzalimi sekutu yang lemah. Dan ketiga, datang dari hamba, dan memang betul kejahatan datang dari hamba. Maka jika Tuhan memaafkannya itu karena kebaikan dan kemurahanNya. Tetapi jika Tuhan menghukumnya itu karena dosa sang hamba dan kesalahannya”.
4. Imam Muhammad al-Baqir dan Imam Ja’far al-Shadiq: “Sesungguhnya Allah lebih menyayangi makhlukNya daripada memaksanya berbuat dosa kemudian menghukum mereka atas dosanya. Allah lebih lebih besar daripada menginginkan sesuatu tetapi tidak terjadi. Seseorang bertanya: “Apakah antara jabr (keterpaksaan) dan qadr (kemerdekaan) ada kedudukan ketiga? Imam Ja’far dan Imam Baqir  menjawab: “Benar, bahkanlebih luas dari antara langit dan bumi”.
5. Imam Ja’far al-Shadiq: “Tidak jabr dan tidak tafwidh (menyerahkan sepenuhnya kepada hamba) tetapi sesuatu di antara keduanya, amr bain amrain. Perawi bertanya: “Apa yang dimaksud sesuatu di antara keduanya? Imam menjawab: “Perumpamannya seperti seseorang yang engkau lihat berbuat dosa; engkau mencegahnya, tapi dia tidak mau berhenti. Kemudian  engkau tinggalkan dia, dan dia terus melakukannya”. Maka engkau tidak dapat dikatakan sebagai telah memerintahkannya berbuat dosa ketika engkau tinggalkan dia karena dia tidak mau mengikutimu”.
6. Imam Ridha: “Allah berfirman: “Wahai anak Adam! Dengan kehendakKu engkau berkehendak. Dengan nikmatKu engkau telah melaksanakan kewajiban-kewajiban. Dengan kekuasaanKu engkau mampu melanggarKu. Aku ciptakanmu mendengar dan melihat. Aku lebih utama terhadap kebaikan daripadamu dan engkau lebih utama terhadap kejahatan-kejahatanmu daripadaKu”.

Jakarta, 24 Januari 2011.

Sumber 

Selasa, 21 Agustus 2012

TAFSIR AYAT TABLIGH (Sunnah-Syiah)

Oleh Sayyid Eja Assegaf
Hari Teragung dalam Al-Quran

الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَ اخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَ رَضِيتُ لَكُمُ الإِْسْلامَ دِيناً

Artinya:"Hari ini orang-orang kafir berputus asa dari agama kalian, oleh karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, dan takutlah kalian kepada-Ku, hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku rampungkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku rela Islam sebagai agama." (Surah Al-Maidah, ayat 3).

Pembahasan Ayat

Dalam ayat ini telah disebutkan sebuah hari yang begitu besar dan begitu agung yang menjadi kekuatan bagi kaum muslimin. Sebuah hari di mana keputusasaan para musuh-musuh Islam, penyempurnaan agama, rampungnya nikmat-nikmat ilahi serta kerelaan merupakan kado dari Allah Swt.
Sekarang satu hal yang harus dijawab adalah apakah hari akbar tersebut? Insya Allah, dalam pembahasan mendatang jawaban dari soal ini akan jelas.

Penjelasan dan Tafsir

Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa dari agama kalian. Kendati musuh-musuh Islam dan orang-orang kafir yang keras kepala sudah mengalami kekalahan-kekalahan yang bertubi-tubi semenjak diutusnya nabi Saw hingga detik-detik akhir kehidupan beliau, baik melalui konspirasi atau peperangan mereka tetap berharap untuk dapat melenyapkan ajaran Islam pada masa yang akan datang; akan tetapi setelah turunnya ayat yang telah kita sebutkan tadi para musuh Islam bukan hanya mengalami kekalahan baru akan tetapi mereka kehilangan harapan untuk masa yang akan datang.

Oleh karena itu, orang-orang kafir untuk selamanya akan berputus asa untuk dapat melenyapkan dan menghilangkan agamamu dari dunia.
فلا تخشوهم و اخشوني  dengan bantuan dan kemenangan besar ini yang terjadi pada hari ini maka janganlah kalian takut kepada mereka, karena mereka sudah tidak bisa memberikan ancaman, akan tetapi takutlah kalian untuk menentang perintah-perintah ilahi; karena pada kondisi inilah bahaya asli dari pada hawa nafsu itu berasal dari Allah Swt.
Dalam hari yang sangat agung dan sangat penting ini agamamu telah sempurna dan nikmat-nikmat ilahi bagi kalian kaum muslimin telah rampung.

Keagungan dan kebesaran hari-hari dan kejadian di dalamnya begitu besar dan begitu bermakna sehingga Allah Swt menjadikan Islam sebagai agama yang terus menerus.
Apakah Hari Itu?
Sebuah hari yang dijelaskan oleh ayat di atas memiliki empat ciri penting;
1) Hari yang menjadi kaum kafir berputus asa.
2) Sebuah hari yang menjadi menyempurnanya agama.
3) Sebuah hari di mana Allah telah menyempurnakan nikmatnya kepada kaum muslimin.
4)Sebuah hari di mana Allah rela agama Islam menjadi agama abadi bagi umat manusia.
Dengan empat ciri khusus di atas, apakah itu sebenarnya? Untuk sampai pada jawaban pertanyaan dia atas kita bisa menempuh dua metode.

Metode pertama: merenungkan dan mendalami ayat tersebut dan mengkaji tentangnya, dengan tanpa melihat riwayat dan hadis-hadis yang menjelaskan ayat tersebut juga tanpa merujuk kepada ungkapan para ahli tafsir, muhadis, cendekiawan dan berbagai bukti-bukti lainnya. Metode kedua, menafsirkan ayat dengan menggunakan riwayat-riwayat yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut ditambah dengan pendapat-pendapat dan keyakinan para mufassir.

Metode pertama: menafsirkan ayat dengan tanpa memperhatikan bukti-bukti di luar ayat
Dengan peristiwa apakah ayat mulia tersebut dapat kita terapkan? Untuk menjawab pertanyaan ini Fakhru-Razi memberikan dua pendapat, sedang Marhum Thabrisi menambahkan satu pendapat lagi. Dengan meminta pertolongan Allah Swt dan dengan berlandaskan akal, logika, menjauhi fanatisme dan berbagai perasaan semoga kita bisa memaparkan pembahasan ini secara ilmiah dan menjauhi hal yang meretakkan kesatuan kaum muslimin. Tiga pendapat tersebut adalah:

Pertama: Salah satu dari pendapat yang dibawakan oleh Fakhru-Razi adalah kata Yaum dalam ayat ini tidak memiliki arti yang sebenarnya, akan tetapi memiliki arti metafora. Dengan demikian arti yaum di sini berarti masa atau sebuah masa; bukan penggalan dari sebuah masa yang dimulai dari pagi hingga malam.

Sesuai pendapat ini, ayat ini tidak berkaitan dengan hari tertentu dan peristiwa khsusus, akan tetapi memberitahukan akan dimulainya masa keagungan Islam dan tibanya masa keputusasaan orang-orang kafir. Terlebih penggunaan kata yaum dengan arti metafora semacam ini merupakan tradisi masyarakat; sebagaimana dikatakan: kemarin saya muda, tapi sekarang saya sudah tua. Arti ungkapan ini adalah masa muda telah berlalu dan telah tiba masa tua, dan ini bukan berarti ingin mengatakan kemarin ia masih muda tapi sekarang (hari ini ) ia sudah tua.

Akan tetapi jawaban pendapat ini jelas dan gamblang; karena arti metafora membutuhkan bukti-bukti yang jelas. Entah Fakhru-Razi dengan bukti jelas mana dia membawakan dan mengatakan bahwa arti dari pada al-Yaum dalam surat ini memiliki arti metafora?

Pendapat kedua: yang dimaksud dari al-Yaum yang berarti hari ini dalam surah ini memiliki arti hakiki dan sebuah hari yang sudah diketahui hari tersebut adalah hari Arafah, tahun 8 bulan Dzulhijjah. Hari Arafah yang terjadi pada peristiwa Hajjatul-wada’ haji perpisahan / terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah Saw pada tahun kesepuluh hijriah.
Pendapat ini juga tidak begitu memuaskan, karena apakah yang membedakan hari Arafah pada tahun kesepuluh hijriah dengan hari Arafah pada tahun kesembilan dan kedelapan?! Jika sebuah peristiwa tidak terjadi di sana, maka bagaimana mungkin hari ini dianggap sebagai hari yang sangat besar dan agung?! Al-hasil pendapat ini juga tidak bisa kita terima karena sulit dicerna dan dibayangkan. Hasilnya dua pendapat yang dipaparkan oleh Fakhru-Razi ini tidak menyingkap misteri besar yang terdapat dalam ayat ini.

Pendapat ketiga: Marhum Thabrisi, salah seorang mufasir ternama kalangan Syi’ah, setelah menukil dan menolak dua pendapat Fakhru-Razi, beliau menukil penafsiran Ahlul Bait a.s. tentang ayat tersebut yang diterima oleh semua para mufasir Syi’ah juga ulama dan cendekiawan mereka.
Pengikut pendapat ini berkeyakinan maksud dari hari yang sangat agung yang membuat orang-orang kafir berputus asa dan menjadi sebab kerelaan Allah Swt serta menjadi sebab kesempurnaan agama dan nikmat-Nya adalah hari kedelapan belas dari bulan Dzul hijjah tahun kesepuluh hijriah, yang tak lain adalah hari raya Ghadir; sebuah hari di mana Rasulullah Saw dengan titah Allah Swt secara resmi melantik Ali bin Abi Thalib a.s. sebagai Wali dan Khalifah setelah beliau di hadapan kaum muslimin.

Soal: apakah pendapat ini sesuai dengan kandungan ayat yang mulai itu?
Jawab: jika kita melihat dengan penglihatan yang sportif dan tanpa praduga sebelumnya, kita akan mendapati bahwa ayat ini secara utuh sesuai dan berkaitan dengan peristiwa Ghadir, karena:

Pertama: musuh-musuh Islam setelah tidak mampu melenyapkan Islam melalui peperangan-peperangan, ancaman-ancaman dan konspirasi-konspirasi yang mereka lakukan, mereka tetap berharap pada satu hal yaitu Rasulullah Saw akan meninggal dunia dan setelah kepergiannya - terlebih setelah mereka mengetahui bahwa beliau tidak memiliki seorang putra yang akan menjadi penggantinya juga sampai detik itu beliau tidak menentukan penggantinya secara resmi - mereka bisa memiliki harapan untuk menghancurkan dan merusak Islam, akan tetapi setelah mereka melihat Rasulullah Saw pada hari itu tanggal delapan belas Dzulhijjah tahun sepuluh Hijriah, di Padang sahara Ghadir Khum dan di tengah-tengah khalayak yang begitu besar dan tiada tandingnya beliau melantik orang yang paling pintar, paling kuat, paling paham dan sosok paling piawai dalam dunia Islam maka harapan-harapan mereka tak lebih dari isapan jempol belaka dan satu-satunya harapan mereka untuk menghancurkan Islam menjadi sirna.

Kedua: dengan pelantikan imam Ali a.s. kenabian tidak terputus di tengah jalan, akan tetapi risalah ini tetap berlanjut untuk menyempurna, karena pada dasarnya, Imamah merupakan penyempurna kenabian dan hasilnya menjadi sebab kesempurnaan bagi agama; oleh karena itu Allah Swt memilih Ali a.s. sebagai khalifah kaum muslimin yang merupakan sebuah sosok besar yang paling alim dan paling pintar setelah pribadi agung Rasulullah Saw dan secara langsung menyempurnakan agama-Nya.

Ketiga: Nikmat-nikmat Allah Swt menjadi sempurna setelah pelantikan kepemimpinan Rasulullah Saw.

Keempat: Tanpa diragukan lagi, agama Islam tanpa Imamah dan kepemimpinan tidak akan bisa menjadi sebuah agama yang global, universal dan pamungkas. Agama terakhir hendaknya mampu menjawab segala keperluan manusia di setiap masa, hal ini sulit dibayangkan jika tidak ada seorang imam maksum yang hadir di setiap zaman.

Oleh karena itu, penafsiran ayat yang mulia tersebut dengan peristiwa Ghadir merupakan penafsiran yang bisa diterima; bahkan penafsiran ini merupakan satu-satunya penafsiran yang benar.
Apakah maksud dari penyempurnaan agama itu?

Dalam menafsirkan penggalan dari ayat di atas “hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian” telah terdapat tiga pendapat:

1) Yang dimaksud dari pada din dari ayat ini adalah undang-undang; artinya pada hari tersebut undang-undang Islam telah sempurna dan setelahnya Islam tidak memiliki kekurangan sedikitpun dalam undang-undangnya.
Untuk menjawab pertanyaan ini bisa kita tanyakan kepadanya: Peristiwa apakah yang terjadi pada hari tersebut atau undang-undang apakah yang telah turun pada hari itu yang membuat undang-undang ilahi menjadi sempurna? (Jawaban dari pertanyaan ini merupakan poin penting dan penjelas dari pada ayat ini).

2) Sebagian kelompok meyakini bahwa maksud dari pada din dari ayat di atas adalah haji; dengan arti pada hari yang khusus dan agung tersebut Allah telah menyempurnakan haji kalian.
Akan tetapi apakah benar din dalam bahasa bermakna haji? Atau din merupakan sekumpulan dari keyakinan-keyakinan dan amal perbuatan di mana haji salah satu dari bagian amal-amal tersebut?
Jelas kemungkinan kedua itu yang benar yang dengan demikian penafsiran agama dengan haji merupakan penafsiran yang tak berdasar.

3)Terwujudnya kandungan ayat dan penyempurnaan agama serta perampungan nikmat itu disebabkan karena Allah Swt pada hari tersebut telah memenangkan kaum muslim terhadap musuh-musuhnya dan membebaskan mereka dari kejelekan mereka.

Akan tetapi apakah pendapat ini benar?! Musuh manakah yang telah dikalahkan dan berputus asa? Kaum Musyrik dari bangsa Arab pada tahun delapan hijriah telah memeluk agama Islam saat peristiwa takluknya kota Mekkah (Fath Mekkah); orang-orang Yahudi di kota Madinah, Khaibar, kabilah Bani Quraidhah, Bani Qainuqo’ dan Bani Nadzir beberapa tahun sebelumnya telah mengalami kekalahan di perang Khaibar dan Ahzab mereka telah menyerah kepada Islam atau mereka hijrah keluar dari pemerintahan Islam, orang-orang kristen juga dengan menandatangani surat perdamaian dengan kaum muslimin; oleh karena itu seluruh musuh-musuh Islam sebelum tahun kesepuluh hijriah telah menyerah kepada Islam.

Memang benar, bahaya kaum munafik yang merupakan musuh yang paling berbahaya bagi agama dan selalu menunggu masa-masa yang tepat sampai saat itu belum menyerah dan belum hilang. Akan tetapi, bagaimana mereka kalah dan berputus asa?

Lagi-lagi pertanyaan ini tak mendapat jawaban seperti pertanyaan-pertanyaan yang telah dipaparkan di atas ini pendapat pertama di mana para pengikut pendapat ini tidak bisa menjawabnya.
Akan tetapi penafsiran ulama-ulama Syi’ah (sebagaimana telah disebutkan) telah memberikan jawaban yang lengkap terhadap pertanyaan-pertanyaan ini dan telah memberikan kejelasan akan tafsiran ayat tersebut.
Ya, peristiwa Ghadir Khum dan masalah wilayah dan kepemimpinan Amirul Mukminin Ali a.s. merupakan penafsiran terbaik atau bahkan satu-satunya penafsiran yang benar terhadap ayat yang mulia ini; karena dengan peristiwa inilah rasa putus asa kaum munafikin itu tampak dan jelas.

Pengakuan Menarik dari Fakhru-Razi

Fakhru-Razi seorang mufasir terkenal dari kalangan Ahli unah mengatakan: para ahli sejarah dan ahli hadis telah mengatakan bahwa saat ayat ini turun kepada nabi Saw beliau tidak hidup lama kecuali 81 atau 82 hari (bahkan usia beliau tidak lebih dari tiga bulan) dan dalam masa waktu yang kurang dari tiga bulan ini tidak ada satupun hukum-hukum Islam yang bertambah begitu juga tidak ada hukum-hukum Islam yang berkurang atau dihapus[1] oleh hukum baru dan peletakan undang-undang telah selesai.[2]

Sesuai penuturan Fakhru-Razi ayat yang mulia di atas turun pada 81 atau 82 hari sebelum Kepergian Rasulullah Saw. Dengan mengacu pada perkataan ini bisa kita menebak bahwa kapan ayat ini turun. Untuk memperjelas poin ini  perlu bagi kita untuk mengetahui sejarah wafatnya Rasulullah Saw. Ahli Sunah meyakini bahwa Rasulullah Saw lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal dan kebetulan juga pada tanggal yang sama yaitu pada tanggal 12 Rabiul awal beliau wafat.
Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa pendapat ini juga didukung oleh sebagian  ulama Syi’ah, salah satu di antara mereka adalah Marhum Kulaini (pengarang kitab al-Kafi) beliau meyakini bahwa hari wafat Rasulullah Saw pada hari kedua belas bulan Rabiul Awal.[3] Kendati hari kelahiran Rasulullah Saw sesuai masyhur ulama Syi’ah adalah tanggal 17 Rabiul Awal. Oleh karena itu kita harus menghitung mundur 81 atau 82 hari tersebut. Dan mengingat tiga bulan berturut-turut itu tidak akan bisa tiga puluh hari sebagaimana juga tidak bisa dua puluh sembilan hari maka kita harus menghitung dua bulan itu tiga puluh hari dan satu bulannya dua puluh sembilan hari atau dua bulannya sebanyak dua puluh sembilan hari sedang satu bulannya tiga puluh hari.

Jika dua bulan Safar dan Muharam kita hitung dua puluh sembilan hari maka semuanya  berjumlah lima puluh delapan hari yang dengan  menambah dua belas hari bulan Rabiaul Awal akan menjadi Tujuh puluh hari dan mengingat bulan Dzul Hijjah tiga puluh hari kita hitung maka dua belas hari ke belakang akan menjadi 82 hari dengan mengurangi dua belas hari bulan Dzul Hijjah maka kita akan sampai kepada tanggal delapan belas dari bulan ini yang merupakan hari raya Ghadir. Berdasarkan  perhitungan ini yang sesuai dengan pendapat ulama Ahli Sunah ayat yang mulia di atas berkenaan dengan Ghadir bukan hari Arafah jika 81 hari kita jadikan standar maka sesuai dengan hari sebelum hari Ghadir Khum dan sangat jauh dengan hari Arafah dan tidak ada kesesuaian sama sekali. Dan jika bulan Safar dan Muharam kita anggap tiga puluh hari sedang bulan Dzul hijjahnya dua puluh sembilan hari, maka sesuai pendapat 82 hari maka 19 Dzul Hijah itu yang benar dan sesuai 81 hari tanggal 20 Dzul Hijjah merupakan waktu turunnya ayat ini, artinya ayat mulia ini satu atau dua hari turun setelah peristiwa Ghadir dan pelantikan Amirul Mukminin Ali a.s. sebagai seorang wali dan menjelaskan peristiwa sejarah yang penting tersebut juga lagi-lagi tidak memiliki hubungan dengan  hari Arafah sama sekali!
Konklusinya adalah bukti-bukti yang beragam telah menunjukkan bahwa ayat yang mulia itu turun berkaitan dengan wilayah dan Khilafah Amirul Mukminin Ali a.s.

Soal: Permulaan ayat ketiga dari surah Al-Maidah berkaitan dengan daging-daging yang diharamkan[4] sedang pada akhir ayat ini berbicara tentang keterdesakan dan hukumnya[5] dan di tengah-tengah dua poin tersebut ditegaskan wilayah dan kepemimpinan. Lalu apakah keserasian antara masalah wilayah dan Imamah serta kepemimpinan selepas Rasulullah dengan masalah daging-daging haram dan hukum orang yang terdesak? Apakah ini tidak bisa menjadi bukti bahwa ungkapan dari ayat tersebut itu tidak berkaitan sama sekali dengan wilayah tapi berkaitan dengan  masalah yang lain?
Jawab: ayat-ayat al-Quran Karim tidak disusun sebagaimana sebuah buku klasik, akan tetapi Quran dicatat dan disusun sesuai urutan turunnya (kadang kala dengan perubahan dan perpindahan) sesuai perintah Rasulullah Saw. Oleh karena itu bisa jadi permulaan ayat di atas berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Nabi berkenaan dengan daging-daging yang diharamkan sebelum terjadinya peristiwa Ghadir dan setelah sesaat terjadinya peristiwa Ghadir para penulis wahyu menulisnya dengan diakhiri dengan hukum daging-daging yang diharamkan. Kemudian masalah terdesak atau personifikasi dari hal-hal tersebut telah terjadi dan hukum-hukumnya sedang akhir dari pada ayat tersebut memuat hukum orang yang terdesak sebagai lanjutan dari bagian tengah ayat tersebut. Oleh karena itu dengan merujuk kepada poin di atas maka tidak lazim ayat-ayat itu memiliki keserasian khusus satu sama lain.
Memperhatikan poin ini dapat menuntaskan berbagai Syubhat dan isykalan-isykalan yang berkaitan dengan ayat-ayat al-Quran karim.

Pertanyaan lain: Dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa ayat ketiga dari surat al-Maidah merupakan ayat terakhir yang turun kepada Rasulullah Saw  dan dengan diturunkannya ayat ini agama menjadi sempurna juga kumpulan undang-undang yang lazim secara utuh telah turun kepada beliau jika memang demikian kenapa setelah ayat ini atau di penghujung ayat ini dijelaskan hukum kondisi terdesak? Jika ayat penyempurnaan agama ini menjadi akhir ayat yang turun dan mengkhabarkan akan kesempurnaan agama dan undang-undangnya, lalu kenapa undang-undang baru ini turun setelah khabar tersebut?
Jawab: Isykalan ini bisa dijawab dengan dua bentuk:
Jawaban pertama: Berkenaan dengan kondisi terbesar seperti dalam musim kemarau atau kelaparan yang berada di akhir pembahasan ayat ini bukanlah hukum baru; akan tetapi ia merupakan hukum ta’kidi (penekanan). Karena hukum ini telah turun sebelum ayat ini dan telah disebutkan di tiga ayat yang lain:
 a. Dalam ayat 145 surat al-An’am yang tanpa diragukan termasuk surat Makkiyah kita mendapati: “katakanlah: aku tidak mendapatkan di dalam wahyu yang telah diturunkan kepadaku tidak ada makanan haram yang aku temukan kecuali bangkai atau darah (yang berasal dari badan binatang) keluar atau daging babi di mana itu merupakan sebuah kotoran, atau binatang yang berdosa di mana saat disembelih di nama arca-arca selain Allah itu disebutkan. Sedang  orang yang terpaksa atau terdesak untuk memakan hal-hal yang diharamkan ini dengan tanpa ingin menikmatinya atau tidak melampaui batas ( maka dia tidak berdosa); karena Allah SWT maha pengampun lagi maha penyayang” . sebagaimana anda perhatikan dalam ayat yang mulia ini yang turun di Mekkah karena beliau belum hijrah ke Madinah sudah turun kepada nabi di mana telah disebutkan hukum Idthirar.
b. Dalam ayat 115 surat an-Nahl  di mana sebahagiannya turun di Mekkah dan sebahagiannya lagi turun di Madinah disebutkan: “sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada kalian bangkai, dara, daging babi, dan apa-apa yang disembelih tanpa menyebut nama Allah maka barang siapa yang terdesak untuk memakannya yang dia tidak melampaui batas kewajaran maka sesungguhnya Allah memberikan ampunan kepadanya karena sesungguhnya Allah maha pengasih lagi maha penyayang.” Dalam ayat mulia tadi yang turun sebelum ayat yang kita bahas yaitu ayat Ikmal hukum idthirar juga telah disebutkan.
c. Dalam ayat173 surat al-Baqarah di mana turun pada permulaan hijrah di kota Madinah, hukum idthirar juga telah disebutkan; dan mengingat ayat ini serupa dengan ayat sebelumnya (Walaupun ada perbedaan tapi perbedaan itu terlampau sedikit) maka kami rasa tidak perlu untuk mengulangnya kembali.
Konklusinya adalah hukum idthirar sudah dibahas dalam tiga ayat al-Quran sebelum ayat ini,[6] oleh karena itu dalam ayat ini tidak dalam rangka menyebutkan hukum baru serta tidak bertentangan dengan ayat Ikmaluddin  oleh karena itu  setelah ayat Ikmaluddin tidak ada undang-undang baru yang turun kepada Rasulullah Saw.
Jawaban kedua: ayat-ayat al-Quran Karim dikumpulkan atau disusun bukan sesuai turunnya ayat akan tetapi  sesuai dengan perintah atau petunjuk nabi Saw dengan metode khusus, sebagai contoh ayat 67 surat al-Maidah  yang berbunyi: “wahai Rasulullah sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari tuhanmu...”, secara yakin itu turun sebelum ayat yang kita bahas ini (ayat ketiga surat Maidah) akan tetapi saat penyusunan ayat itu diletakkan setelah ayat ini; oleh karena itu tidak apa-apa jika hukum idthiror ini yang jelas turun sebelum ayat Ikmaluddin itu ditulis dan dicatat setelah ayat ini.

Metode kedua: Menafsirkan Ayat Dengan Berdasarkan Riwayat-riwayat

Hadis-hadis dan riwayat yang menjadi kondisi turunnya ayat tersebut begitu banyak. Marhum Allamah Amini ra dalam kitabnya yang begitu berharga dan tiada bandingnya yaitu al-Ghadir[7] secara panjang lebar membahas peristiwa Ghadir. Beliau telah menukil dalam kitabnya 110 orang sahabat juga 80 tabiin[8]; penulis kitab al-Ghadir menukil peristiwa besar dan tiada tandingnya dari 360 kitab yang berbeda-beda; kitab-kitab yang sebagian darinya berasal dari kalangan Ahli Sunah dan sebagian yang lain berasal dari kalangan Syi’ah. Adapun poin yang perlu diperhatikan adalah seluruh riwayat-riwayat yang berkaitan dengan peristiwa akbar al-Ghadir tidak berkaitan dengan pembahasan kita sekarang, akan tetapi riwayat-riwayat yang berkenaan dengan turunnya ayat yang mulia ini yang berkaitan dengan pembahasan kita dan kebetulan jumlah riwayat ini juga tidak sedikit Muhaqqiq Allamah Hilli dalam kitabnya menyebutkan 16 riwayat yang dinukil berkenaan dengan hal ini[9]

Riwayat-riwayat tersebut demikian:
1. Suyuti, salah satu ulama terkenal Ahli Sunah yang hidup di Mesir dan mendapat tempat yang terhormat di kalangan Ahli Sunah telah menyebutkan dan menukil sebuah riwayat:
Abu Said al-Hudri mengatakan: saat Rasulullah Saw melantik Ali a.s. di hari Ghadir Khum sebagai pengganti setelahnya dan mengumumkan wilayahnya kepada kaum mukminin, Jibril turun dan membawa ayat ini kepada beliau.[10] Sesuai riwayat ini yang dinukil dari Ahli sunah, maka maksud dari kata al-yaum adalah hari Ghadir Khum dan ayat yang sedang dibahas berkenaan dengan wilayah dan kepemimpinan Ali as.
2. Ulama Ahli Sunah tersebut juga meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah, seorang perawi yang diterima dan dihormati oleh kalangan Ahli Sunah . sesuai dengan riwayat ini Abu Hurairah mengatakan: ketika hari Ghadir Khum tiba yaitu hari ke delapan belas Dzul Hijjah, Rasulullah Saw bersabda: barang siapa aku maulanya maka ini Ali sebagai maulanya (juga), maka Allah SWT menurunkan ayat:[11] Riwayat ini juga dengan jelas dan tegas menunjukkan pada apa yang telah kita tekankan dan kita bahas.
3. Khatib Bagdadi salah satu ulama lain dari Ahli Sunah yang hidup di abad kelima hijriah[12] dalam kitabnya Tarikh Baghdad dengan menukil riwayat dari Abu Hurairah disebutkan: Rasulullah Saw bersabda: Barang siapa berpuasa di hari kedelapan belas dari bulan Dzul Hijjah maka dicatat baginya (pahala puasa 60 bulan) hari itu adalah hari Ghadir Khum saat Rasulullah Saw mengangkat tangan Ali Bin Abi Thalib a.s kemudian beliau bersabda: Tidakkah aku wali kaum mukminin? Semua  menjawab: ya benar wahai utusan Allah, Rasulullah Saw kemudian bersabda: barangsiapa aku maulanya maka Ali adalah maulanya (juga). Kemudian Umar bin Khattab berkata: Selamat bagimu wahai putra Abi Thalib kamu telah menjadi maulaku dan maula setiap mukmin dan mukminah, kemudian Allah SWT menurunkan ayat[13]
4. Hakim Haskani, di mana dia termasuk ulama Ahli Sunah yang hidup di abad kelima juga meriwayatkan beberapa riwayat yang gamblang dan jelas dalam hal ini, tapi untuk meringkas kami tidak perlu menyebutkan riwayat-riwayat yang dinukil di kitabnya.[14]
Hafidz Abu Naim Isfahani dalam kitab “Ma Nuzzila minal Quran fi Ali a.s.”                   (ayat-ayat yang berkenaan dengan Ali a.s.) menukil dari seorang sahabat terkenal Rasulullah Saw, Abu Said al-Hudri di mana Rasulullah Saw telah melantik dan mengumumkan kepada ummat manusia bahwa Ali a.s. Wali dan khalifah mereka khalayak belum berpisah satu sama lain di mana ayat  Ikmal.[15] turun, pada saat itu Rasulullah Saw bersabda: Allahu Akbar atas penyempurnaan agama, perampungan nikmat, kerelaan tuhan atas risalahku dan kepemimpinan Ali setelahku. Kemudian beliau bersabda: barang siapa aku maula baginya maka Ali adalah maulanya juga. Ya Allah lindungilah atau cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya, tolonglah orang yang menolongnya dan hinakanlah orang yang menghinanya.[16] Konklusinya adalah dari riwayat-riwayat yang telah disebutkan dan riwayat-riwayat lain yang begitu banyak yang tidak dapat kira sebutkan semua untuk menyingkat pembahasan  secara gamblang dan jelas dapat dipahami bahwa ayat Ikmaluddin yang mulia ini turun berkaitan dengan peristiwa akbar al-Ghadir dan menjadi bukti jelas yang jelas juga lugas terhadap kepemimpinan, wilayah dan khilafah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.

Ungkapan menarik dari Alusi

Kendati banyak bukti-bukti yang gamblang dalam ayat mulia tersebut sebagaimana telah lewat pembahasannya dan riwayat-riwayat yang begitu banyak yang telah dinukil baik dari kalangan Syi’ah dan kalangan Ahli Sunah sebagian kalangan atas dasar fanatik dan keras kepala masih tetap menafsirkan ayat mulia tersebut sesuai dengan kemauannya sendiri dan keluar dari pembahasan  logis. Salah satu dari mereka adalah Alusi seorang Mufassir kenamaan Ahli Sunah penulis tafsir terkenal Ruhul-Ma’ani. Saat menjelaskan dan menafsirkan ayat ke-67 surat al-Maidah ketika sampai pada peristiwa Ghadir dia mengatakan: Ibnu Jarir at-Thabari salah seorang ahli sejarah terkenal Ahli Sunah telah menulis dua jilid kitab berkenaan dengan riwayat-riwayat al-Ghadir, kemudian (tanpa membahas dan memeriksa riwayat-riwayat yang ada dalam kitab tersebut) dia berkata: Dalam dua kitab tersebut hadis-hadis yang sahih dan yang dhaif telah di campur aduk ! Kemudian  dia menukil dari Ibnu Asakir di mana dia banyak sekali menukil tentang hadis berkenaan dengan khutbah dan peristiwa al-Ghadir, akan tetapi kami hanya menerima hadis-hadis yang tidak berbicara tentang khilafah dan kepemimpinan Ali a.s.[17]

Ungkapan semacam ini sungguh telah membuat heran setiap orang yang sportif.
Apakah kita bisa menolak seluruh isi kitab tersebut dengan dalil di dalamnya terdapat hadis-hadis yang dhaif dan tidak bisa diterima?
Apakah dalam kitab-kitab standar Ahli Sunah tidak terdapat hadis-hadis dhaif?
Apakah dengan dalil ini kalian tidak akan menyentuh kitab-kitab seperti ini?
Jelas ungkapan semacam ini sangat lucu dan perlu ditertawakan. Akan tetapi ungkapan yang lebih parah dari ini, ungkapan yang berkaitan dengan riwayat Ibn Asakir. Di mana ungkapan tersebut merupakan puncak kecongkakan dan permusuhannya dengan kebenaran dan hakikat Ahlul Bait a.s. Di belahan  bumi mana ungkapan ini bisa diterima di mana seseorang berkata: apa yang sesuai dengan keinginan dengan hawa nafsu saya akan saya terima sedang yang tidak sesuai tidak akan saya terima!
Apakah ungkapan semacam ini bisa diterima dari seorang biasa..?
Dari seorang ulama seperti Alusi, bagaimana mungkin?!

Para pembaca yang budiman! Mungkin dengan keheranan yang luar biasa kita bertanya pada diri kita sendiri bagaimana mungkin seorang sosok besar seperti Alusi melontarkan ungkapan-ungkapan yang tidak berdasar? Akan tetapi untuk menjawab pertanyaan tadi perlu disampaikan: setiap orang yang ingin memutuskan sesuatu dan menganggap dirinya dan tidak menjaga dirinya untuk cepat-cepat menghukumi pasti dia akan terjerembab pada nasib yang sama!
Pesan-pesan Ayat
1. Wilayah yang membuat putus asa para musuh, jika kalian ingin para musuh kalian berputus asa di setiap masa maka berpegang teguhlah kepada wilayah dan hidupkanlah ia; karena sebagaimana pada hari tersebut pemaparan wilayah membuat para musuh membuat putus asa, pada masa sekarang pun menghidupkan kembali dan berpegang teguh kepadanya  menjadi sebab keputusasaan para munafik dan musuh-musuh. Masa sekarang ini, hendaknya semua menuju dan mengarah kepada imam yang gaib dari pandangan namun hadir dalam kalbu dan pikiran yaitu imam zaman, Imam Mahdi a.s. Dan hendaknya kita melangkah di bawah naungannya; karena wilayah beliau merupakan pemersatu kaum Syi’ah dengan berbagai latar belakang yang beragam. Oleh karena itu, hidupnya wilayah merupakan tiupan angin segar, satu dan kesatuan dan kesamaan langkah. Ini merupakan awal dari kebahagiaan dan harapan sebagaimana perbedaan dan perpecahan sumber malapetaka dan kemunduran.
Jika semua negara-negara Islam yang terpecah belah mengamalkan salah satu dasar yang pokok ini dan merangkul satu sama lain dan bersatu, maka kisah memilukan Palestina tidak akan terulang lagi, dan para muslim yang tertindas tidak akan memuji-muji bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu satu-satunya jalan yang dapat membuat orang kafir berputus asa adalah berpegang teguh kepada tali wilayah.
2. kesempurnaan agama dan rampungnya nikmat berada di bawah naungan wilayah
sebagaimana d pahami dari ayat tadi, penyempurnaan agama dan rampungnya kenikmatan terwujud karena wilayah; masa sekarangpun turunnya nikmat-nikmat baik materi maupun maknawi serta kesempurnaan agama dalam berbagai sisi-sisinya akibat wilayah. Tanpa wilayah kendati agama dipraktekkan amal-amal ibadah dilaksanakan, namun tanpa diragukan lagi semua itu tidak akan diterima di sisi Allah Swt; oleh karena itu kesempurnaan nikmat dan agama di setiap masa bergantung kepada konsekuensi kita terhadap tali wilayah dalam tataran praktis.

Pembahasan tambahan

1. Wilayah merupakan permasalahan paling pokok dalam Islam
Berkenaan dengan pentingnya wilayah begitu banyak riwayat yang menjelaskan hal tersebut; salah satu contoh yang akan kita bawakan sebagai pelengkap pembahasan di atas berikut ini riwayat dari imam Muhammad Al-Bagir a.s.: Zurarah menukil dari beliau: Islam dibangun atas lima hal; salat, zakat, puasa, haji, dan wilayah. Kemudian Zurarah bertanya: Manakah di antara kelima hal tersebut yang paling mulia?beliau menjawab: Wilayah yang paling utama karena wilayah kunci dari segalanya sedang wali atau imam merupakan pembimbing manusia terhadapnya.[18]
Dua poin yang perlu dicermati dari riwayat tersebut:
a) kelima hal maha penting itu bukan asal-asalan (begitu saja) digandengkan satu sama lain, akan tetapi kelimanya memiliki hubungan erat satu dengan lainnya.
Salat merupakan hubungan hamba dengan penciptanya, bahkan masa terbaik untuk hubungan antara makhluk dengan khaliknya adalah waktu salat.
Zakat merupakan hubungan antara makhluk dengan sesamanya; orang yang membutuhkan, dengan pelaksanaan undang-undang zakat yang dilakukan oleh orang-orang kaya akan lenyap dari mereka masalah-masalah ekonomi yang mereka hadapi.
Puasa merupakan hubungan manusia dengan dirinya sendiri; dengan menciptakan hubungan ini manusia dapat menaklukkan dan melawan hawa nafsunya; bahkan puasa merupakan simbol melawan hawa nafsu.
Haji merupakan hubungan sekelompok kaum muslimin dengan kelompok yang lain di mana dengan kesatuan pikiran dan tukar-menukar pendapat problematika dunia Islam dapat ditangani.
Sedang wilayah merupakan penjamin terlaksananya hal-hal tersebut dengan benar dan penjelas hukum-hukum dari masalah itu.
Oleh karena itu empat asa di atas bukan secara kebetulan disebutkan bersamaan dalam riwayat ini akan tetapi mereka memiliki hubungan logis satu sama lain.
(b) Lalu kenapa wilayah lebih penting dan utama dari empat asas yang pertama?
Sebagaimana di dalam riwayat juga disebutkan, wilayah merupakan penjamin terwujudnya salat, puasa, haji dan zakat dan kandungan ibadah-ibadah ini, bahkan seluruh ibadah-ibadah yang lain dapat dilaksanakan (secara benar) di bawah naungan wilayah; artinya tanpa wilayah dan kepemimpinan Islam undang-undang ini tak lebih dari hitam di atas putih saja, dan seperti resep seorang dokter yang jika tidak diamalkan kesembuhan akan sulit didapatkan.

Wilayah berarti pelaksanaan undang-undang Islam oleh para imam maksum dan para pengganti mereka; oleh karena itu pemerintahan wilayah dari salat, puasa, haji dan zakat itu lebih tinggi yang hasilnya adalah pemerintahan Islam; sebuah wilayah yang bersumber dari wilayah Amirul Mukminin Ali a.s. di Ghadir khum:
1) Wilayah Memiliki Dua Arah
Wilayah sesuai penafsiran tadi memiliki dua arah:
Satu sisi wali dan pemimpin di mana dia memberi petunjuk kepada umat manusia, menjelaskan pembahasan-pembahasan yang perlu disampaikan, memberikan kewaspadaan kepada kaum muslimin di hadapan bahaya-bahaya, menciptakan ketertiban dan keteraturan, memberikan hak-hak orang-orang yang tertindas, menerapkan hukum-hukum ilahi dan menegakkan amar makruf dan nahi anil munkar.
Sedang sisi lainnya adalah umat manusia di mana mereka harus berusaha untuk mengatur langkah mereka sesuai dengan  ucapan, tindakan, keyakinan dan pemikiran para imam, karena tidak bisa dikatakan mereka pengikut garis wilayah namun membiarkan dirinya melakukan pelanggaran dan penyimpangan.

Hal yang menarik adalah pada satu ketika ketua Savak dalam salah satu interogasinya berkata kepada saya (penulis): kecintaan terhadap a.s. Ali dan wilayahnya tetap berada di hatiku akan tetapi jika orang-orang bangkit menentang Syah, maka aku rela untuk membinasakan satu juta orang dari mereka! Apakah tindakan dan pemikiran semacam ini sesuai dengan wilayah? atau wilayah semacam ini adalah wilayah gombal belaka?
Ya, wilayah adalah menyesuaikan seluruh amal perbuatan, ucapan dan pikiran atas keyakinan, ucapan dan tindakan para maksumin a.s.

Catatan Kaki:
[1] Hari-hari ini telah mendapat serangan yang bertubi-tubi dari orang-orang yang tidak memiliki kesadaran; salah satu dari serangan mereka adalah Islam seharusnya tidak terbatas dengan apa yang dimiliki sekarang bahkan Islam harus menambahkan pemikiran dan poin-poin lain kepada undang-undang dan aturan-aturannya, dan jika Rasulullah Saw lebih lama lagi hidup maka undang-undang lain dalam bentuk wahyu akan turun kepada beliau; konklusinya adalah Islam adalah sebuah agama yang tidak sempurna dan harus disempurnakan!
Jawab: apa yang disampaikan oleh Fakhru-Razi tadi maka jawaban dari syubhah ini akan jelas; karena jika memang demikian maka seharusnya dalam masa waktu  delapan puluh sekian hari di mana Rasulullah Saw masih hidup setelah turunnya ayat Ikmal ini seharusnya ayat dan undang-undang turun kepada beliau. Oleh karena itu mengingat dalam masa ini tidak ada undang-undang khusus yang turun maka kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa apa yang seharusnya bias disampaikan itu telah dilakukan dan jika nabi Saw hidup beberapa tahun lagi setelah itu tetap undang-undang islam tidak akan bertambah.
Di sini perlu kita sayangkan di mana bagaimana orang-orang yang tidak mengenal sumber-sumber keislaman yang tidak memiliki kesadaran dapat memberikan pendapat?! Kenapa di setiap tempat hanya orang-orang yang memiliki keahlian dan pengetahuan yang memberikan pendapat akan tetapi di dalam permasalahan agama kita melihat setiap orang berani memberikan pendapat dan ikut andil meramaikan perbedaan pendapat yang ada?!
[2] Tafsir Kabir, jilid 11, hal 139.
[3] Usul-Kafi, jilid ke-2, hal 323 (kitab al-Hujjah, bab-bab Tarikh, Bab Maulidin-nabi Saw)
[4] Permulaan ayat tersebut adalah: “Telah diharamkan kepada kalian bangkai, darah, daging babi, hewan-hewan yang disembelih dengan tanpa menyebut nama Allah, hewan-hewan yang tercekik,hewan-hewan yang terjatuh dari ketinggian dan hewan-hewan yang mati karena ditanduk hewan-hewan lain atau hewan-hewan sisa dari binatang-binatang yang suka berburu kecuali yang telah disembelih oleh kalian, juga hewan-hewan yang disembelih di atas arca-arca; dan begitu juga membagikan daging hewan dengan kayu-kayu panah yang khusus untuk mengundi nasib semua pekerjaan-pekerjaan ini adalah fasik dan berdosa.”
[5] Bagian akhir dari ayat yang sedang kita bahas itu adalah: “sedang mereka yang sedang terjepit dalam keadaan lapar dia tidak mampu mendapatkan bahan makanan dengan tanpa cenderung kepada dosa (maka tidak apa-apa dia memakan daging-daging yang telah dilarang) maka Allah Swt maha pengampun lagi maha penyayang”.
[6] Kandungan 4 ayat idthirar ini beliau memberikan Kewenangan  terhadap umat manusia untuk memanfaatkan daging-daging yang telah dilarang untuk menjaga jiwa dan keselamatannya yang jelas penggunaan itu harus sesuai dengan keperluannya; yang jelas hukum ini pada zaman kita sangat sedikit kita jumpai akan tetapi dalam perjalanan-perjalanan ke luar negeri dan ke berbagai Negara yang penyembelihan binatang-binatang tidak dilakukan dengan syar’i itu dapat kita temukan; oleh karena itu mereka yang bepergian ke negara-negara tersebut mereka yang sama sekali dia tidak memakan daging atau bahan-bahan protein lain keselamatannya akan terganggu maka dengan dalil darurah dia dapat menggunakan dan memanfaatkan daging-daging tersebut seperlunya untuk menghilangkan bahaya yang mengancam. Perlu ditekankan lagi bahwasanya itu harus sesuai dengan kebutuhan dan darurat yang ada.
[7] Kendati dalam topik kitab al-Ghadir terdapat kitab-kitab lain seperti Tabaqatul-Anwar, al-murajaat, Ihhqaqol-Haq dan yang lainnya itu telah ditulis akan tetapi kitab-kitab yang kita sebutkan tadi tidak bida menyamai kitab al-Ghadir; karena Marhum Allamah Amini telah membahasnya dengan lebih mendalam dan lebih teratur.
[8] Perbedaan antara sahabat dan tabiin adalah sahabat orang yang bertemu dengan Rasul Saw dan hidup di zaman beliau sedang tabiin dia tidak sempat berziarah kepada rasul dan tidak hidup sezaman dengan beliau akan tetapi mereka hidup di zaman para sahabat beliau.
[9] Al-Ghadir filKitab was-Sunnat wal-Adab, jilid 1, hal 230.
[10] Ad-Durul-Mantsur, jilid ke-2, hal 259.
[11] Ad-Durul-Mantsur, jilid 2, hal 259..
[12] Pada abad kelima hijriah hadis al-Ghadir mendapat tempat dan perhatian, sehingga pada abad tersebut begitu banyak kitab-kitab yang ditulis tentangnya.
[13] Tarikh Baghdad, jilid 8, hal 290.
[14] Jelas puasa di hari ke delapan belas bulan Dzul Hijjah guna mensyukuri ditetapkannya wilayah memiliki fadilat yang besar dan setara dengan pahala puasa enam puluh bulan hal ini juga merupakan bukti lain akan peristiwa maha penting yang terjadi di Ghadir jika tidak sangat sulit dibayangkan pahala yang besar dijanjikan untuk hari tersebut.
[15] Syawahid-Tanzil, jilid pertama, hal  153
[16] Tafsir Nemuneh, jilid 4, hal 266.
[17] Ruhul-Ma’ni, jilid 6 ,hal 195.
[18] Usul-Kafi, jilid 3, hal 30, kitabul-Iman wal-Kufr, bab Da’aimul-Islam, hadis ke-5.

Sumber 

Senin, 20 Agustus 2012

Rahbar Menjenguk Korban Gempa di Azerbaijan

"Bangsa Iran adalah bangsa yang bersatu dan persatuan ini telah menimbulkan kekuatan dan ketangguhan dalam diri mereka." Ungkap Rahbar.

Menurut Kantor Berita ABNA, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengunjungi wilayah Azerbaijan timur yang dilanda gempa pada Sabtu lalu. Kunjungan tersebut dilakukan secara mendadak dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Sebagaimana dilansir dari IRIB Indonesia yang menukil dari Fars News Ayatullah Khamenei pada Kamis (16/8) mengunjungi wilayah Azerbaijan timur secara mendadak dan melihat langsung aktivitas bantuan kepada para korban gempa.

Rahbar mengatakan bahwa kunjungannya tersebut bertujuan untuk mengungkapkan rasa empati dan bela sungkawa mendalam kepada para korban.

Beliau menambahkan, bangsa Iran mempunyai empati mendalam kepada para korban gempa bumi di wilayah Azerbaijan.

"Bangsa Iran adalah bangsa yang bersatu dan persatuan ini telah menimbulkan kekuatan dan ketangguhan dalam diri mereka," pungkasnya.
Sabtu (11/8), gempa berkekuatan 6,4 skala Richter wilayah Provinsi Azerbaijan timur sepert kota Aharpada pukul 15:53 waktu setempat. Gempa mengguncang wilayah di 60 kilometer sebelah timur laut Tabriz pada kedalaman 9,9 kilometer.

Direktur Utama Forensik Azerbaijan timur Bahram Samadi Rad pada Selasa ( 14/8) mengatakan, data korban tewas dalam gempa bumi hingga hari Selasa mencapai 169 orang. Namun,menurut lembaga forensik, angka tersebut akan ditambah dengan jumlah jasad yang dikebumikan oleh warga di berbagai desa tanpa izin pihak forensik dan diperkirakan jumlah keseluruhan di bawah 300 orang. (IRIB Indonesia)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More